Jakarta, Lahatsatu.com – Rusia menghadapi tantangan berat di tengah upaya mengatasi potensi resesi ekonomi. Sebuah gempa bumi dahsyat berkekuatan 8,8 magnitudo mengguncang Semenanjung Kamchatka, diikuti gelombang tsunami setinggi 3-4 meter yang menerjang wilayah tersebut.
Kota Severo-Kurilsk, yang terletak di ujung selatan Semenanjung Kamchatka, menjadi wilayah pertama yang dihantam tsunami. Beberapa warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat gelombang yang merusak bangunan, termasuk sebuah pabrik pengolahan ikan. Kantor berita TASS melaporkan setidaknya tiga gelombang tsunami menerjang pesisir Severo-Kurilsk, dengan gelombang terakhir menjadi yang terkuat dan menyebabkan kerusakan terparah.

Bencana alam ini menambah beban bagi Rusia yang tengah berjuang melawan kemerosotan ekonomi akibat sanksi internasional. Sejak konflik dengan Ukraina pada tahun 2022, Rusia menjadi negara dengan sanksi terbanyak di dunia. Meskipun demikian, hingga tahun 2024, sanksi tersebut belum sepenuhnya menggoyahkan ekonomi Rusia.
Pada tahun 2024, ekonomi Rusia tumbuh 4,3%, melampaui pertumbuhan negara-negara maju G7 seperti Inggris (1,1%) dan Amerika Serikat (2,8%). Pertumbuhan ini didorong oleh rekor pengeluaran militer dan ekspor minyak yang stabil ke China dan India.
Namun, inflasi terus meningkat, suku bunga melonjak hingga 20%, dan perusahaan-perusahaan Rusia kesulitan mencari tenaga kerja. Menteri Ekonomi Rusia bahkan memperingatkan pada Juni 2025 bahwa negara tersebut berada di ambang resesi. Beberapa pengamat juga memprediksi ekonomi Rusia akan mengalami kemunduran.
Ekonom yang berbasis di Moskow, Yevgeny Nadorshin, memperkirakan situasi yang sulit hingga akhir tahun 2026, dengan potensi gagal bayar dan kebangkrutan. Meskipun demikian, ia meyakini kemerosotan tersebut tidak akan separah yang diperkirakan negara-negara Barat dan menyebut dugaan kehancuran ekonomi Rusia sebagai kebohongan.
Nadorshin menyoroti tingkat pengangguran Rusia yang berada pada rekor terendah 2,3% dan diperkirakan hanya akan mencapai 3,5% pada tahun 2026. Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran di Inggris mencapai 4,6% per April 2025.
Meskipun demikian, Nadorshin dan ekonom lainnya tetap khawatir karena Rusia tampaknya memasuki periode stagnasi. Laju inflasi mencapai 9,9% per April 2025, sebagian disebabkan oleh sanksi Barat yang menaikkan harga impor. Selain itu, Rusia mengalami kekurangan pekerja yang menyebabkan kenaikan upah. Pada akhir tahun 2024, negara itu diperkirakan kekurangan sekitar 2,6 juta pekerja, sebagian besar karena banyaknya pria yang pergi berperang atau melarikan diri ke luar negeri.
Bank sentral telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi tahun ini untuk mengendalikan kenaikan harga, namun hal ini meningkatkan biaya modal bagi perusahaan. Sementara itu, pendapatan minyak dan gas Rusia menurun akibat sanksi dan melemahnya harga, menyebabkan defisit anggaran yang semakin besar dan mengurangi dana untuk infrastruktur dan layanan publik.




