Rupiah Diprediksi Tertekan Usai Libur Lebaran

Jakarta, Lahatsatu.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami tekanan pelemahan pada awal perdagangan pekan depan setelah libur panjang Lebaran. Sentimen negatif ini dipicu oleh

Agus sujarwo

Rupiah Diprediksi Tertekan Usai Libur Lebaran

Jakarta, Lahatsatu.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan akan mengalami tekanan pelemahan pada awal perdagangan pekan depan setelah libur panjang Lebaran. Sentimen negatif ini dipicu oleh menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.

Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat komoditas dan mata uang, memperkirakan bahwa rupiah berpotensi melemah hingga mencapai level Rp 17.050 per dolar AS pada hari pertama perdagangan setelah libur Lebaran, yaitu pada hari Rabu (25/3/2026).

Rupiah Diprediksi Tertekan Usai Libur Lebaran
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Saat pembukaan pasar di hari Rabu, kemungkinan besar rupiah akan melemah. Target saya minggu depan di Rp 17.050," ujar Ibrahim.

Menurutnya, penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda. Dolar AS semakin perkasa karena kebijakan bank sentral di berbagai negara yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Bahkan, beberapa negara seperti Australia justru menaikkan suku bunga di tengah kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi, terutama minyak mentah jenis Brent yang diperkirakan akan bergerak di kisaran US$ 113 hingga US$ 116 per barel.

"Kebijakan suku bunga tinggi kemungkinan besar akan terjadi kembali, dan ini yang membuat indeks dolar kemungkinan akan menuju 101,10-an, yang akan berdampak pada pelemahan mata uang rupiah," jelasnya.

Di sisi lain, Ibrahim mengakui bahwa pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. BI terus melakukan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar internasional dan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar dalam negeri. Pemerintah juga berupaya melakukan efisiensi anggaran untuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3%.

Namun, terlepas dari upaya-upaya tersebut, dampak kondisi global, terutama lonjakan harga minyak dunia, masih memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap pergerakan rupiah.

"Secara domestik, sebenarnya pemerintah dan Bank Indonesia sudah benar-benar berhati-hati bagaimana caranya agar rupiah ini kembali menguat. Tetapi eksternal itu begitu kuat, apalagi tentang impor bahan bakar minyak," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar