Jakarta – Di tengah ancaman lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan impor, Indonesia mengambil langkah antisipatif yang berbeda dengan negara tetangga seperti Filipina dan Myanmar. Alih-alih memangkas jam kerja atau memberlakukan Work From Home (WFH) secara masif, pemerintah Indonesia memilih fokus pada efisiensi energi melalui program berkelanjutan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah sedang mengkaji berbagai opsi untuk menekan konsumsi BBM. "Kita sedang melakukan exercise. Apa yang dilakukan negara lain itu tergantung kondisi masing-masing. Kita akan melihat seberapa penting dan langkah apa yang harus kita lakukan dalam rangka efisiensi," ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Bahlil menekankan bahwa efisiensi energi merupakan langkah strategis untuk menyelamatkan keuangan negara dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber energi yang dimiliki. Salah satu langkah konkret yang akan dipercepat adalah program biodiesel, dengan target peningkatan campuran hingga 50% atau B50.
"Kemudian kita akan mempercepat penerapan E20, etanol. Karena kalau harga minyak fosil bisa melampaui 100 USD per barrel, maka itu lebih murah. Kita akan blending untuk diesel itu antara B0 dengan B40 sekarang menjadi B50," jelasnya.
Saat ditanya mengenai potensi pengendalian energi dalam waktu dekat, Bahlil menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan energi yang cukup selama periode Ramadan dan Lebaran. "Kita pikir hari raya aja dulu ya. Hari raya aman, itu dulu yang paling penting," pungkasnya. Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat meredam dampak fluktuasi harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional dan menjaga stabilitas pasokan energi bagi masyarakat.




