Jakarta – Raksasa e-commerce Korea Selatan, Coupang, menjadi sorotan tajam setelah mengumumkan kompensasi senilai 1,69 triliun won atau setara Rp 19,70 triliun. Dana fantastis ini dialokasikan untuk 33,7 juta pemilik akun yang datanya bocor dalam insiden masif beberapa waktu lalu. Namun, skema ganti rugi yang disalurkan dalam bentuk voucher internal ini justru menuai kritik pedas dari anggota parlemen dan kelompok advokasi konsumen.
Dilansir dari Lahatsatu, kompensasi ini diberikan setelah kebocoran data besar-besaran yang memicu kemarahan publik dan desakan dari para legislator. Setiap pelanggan yang terdampak dijanjikan akan menerima voucher Coupang senilai 50.000 won. Namun, voucher ini, yang hanya dapat digunakan untuk layanan dan platform Coupang sendiri, menjadi inti permasalahan yang memicu kontroversi.

Pengumuman kompensasi ini datang sehari setelah pendiri Coupang, Kim Bom, menyampaikan permintaan maaf publik pertamanya atas insiden kebocoran data yang terjadi bulan lalu dan berjanji mempercepat proses ganti rugi. Meski demikian, Kim Bom menolak untuk hadir dalam sidang parlemen yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa dan Rabu, dengan alasan memiliki agenda lain. Keputusan ini semakin memperkeruh suasana dan memicu spekulasi.
Choi Min-hee, seorang anggota parlemen dari Partai Demokrat yang juga menjabat Ketua Komite Sains, TIK, Penyiaran, dan Komunikasi Majelis Nasional, tidak menahan diri dalam melontarkan kritik. Ia secara terang-terangan menyebut Coupang berusaha mengubah krisis ini menjadi peluang bisnis, dengan membagikan kupon untuk layanan yang menurutnya "nyaris tak digunakan" oleh konsumen. Ia menilai langkah ini tidak adil bagi konsumen yang dirugikan.
Senada dengan parlemen, Korea National Council of Consumer Organizations juga menyuarakan kekecewaan mereka. Kelompok advokasi konsumen ini menilai bahwa rencana kompensasi Coupang "meremehkan keseriusan kebocoran data" dan lebih menyerupai "strategi pemasaran untuk mendorong belanja tambahan", alih-alih bentuk pemulihan kerugian yang adil bagi konsumen. Mereka berpendapat




