lahatsatu.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tengah menjadi sorotan tajam, terutama ketika dibandingkan dengan negara tetangga, Vietnam. Di saat Indonesia masih berjuang mempertahankan angka pertumbuhan di kisaran 5 persen, Vietnam justru menunjukkan taringnya dengan melesat hingga menyentuh angka 9 persen. Fenomena perbedaan kecepatan ekonomi ini memicu pertanyaan besar mengenai strategi apa yang telah diterapkan oleh negara tetangga tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kunci utama di balik agresivitas ekonomi Vietnam terletak pada keberanian mereka melakukan lompatan besar di sektor-sektor masa depan. Menurutnya, Vietnam telah lebih dulu mengambil langkah strategis dengan memfokuskan energi pada digitalisasi, industri semikonduktor, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Airlangga memberikan analogi menarik mengenai struktur ekonomi ini dengan menggunakan konsep eskalator. Ia menjelaskan bahwa perjalanan ekonomi sebuah negara dimulai dari sektor pertanian, kemudian naik ke sektor industri, dan seharusnya berlanjut ke sektor jasa modern serta digitalisasi.
"Jika kita melihat ekonomi dalam bentuk eskalator, dari agrikultur kita naik ke industri, namun dari industri ini harus dinaikkan lagi ke digitalisasi dan jasa. Vietnam dan India sudah berada di level tersebut, sementara kita masih tertahan di level menengah dan belum berhasil melompat ke level berikutnya," ujar Airlangga dalam acara ‘BIG Downstream Insight’ di Jakarta Selatan. Ia menekankan bahwa jika Indonesia mampu melakukan lompatan teknologi serupa, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.
Selain faktor teknologi, perbedaan mencolok lainnya terletak pada ketersediaan infrastruktur pendukung investasi, yakni Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Data menunjukkan adanya ketimpangan yang sangat signifikan antara kedua negara. Indonesia saat ini baru memiliki total luas KEK sekitar 24.000 hektare. Sebaliknya, Vietnam telah menyiapkan lahan seluas lebih dari 2 juta hektare untuk kawasan ekonomi mereka.
Keberanian Vietnam dalam menyediakan lahan yang masif ini dibarengi dengan kepastian hukum yang kuat serta kualitas pelayanan investasi yang sangat mumpuni. Hal ini membuat para investor global merasa lebih aman dan nyaman untuk menanamkan modalnya di sana.
Tak hanya soal lahan dan teknologi, Vietnam juga dinilai jauh lebih agresif dalam diplomasi perdagangan internasional. Mereka berhasil mengamankan berbagai perjanjian dagang strategis dengan pasar-pasar utama dunia, seperti Uni Eropa melalui skema CEPA, serta mendapatkan perlakuan tarif yang lebih menguntungkan dari Amerika Serikat dibandingkan Indonesia.
Kondisi ini menciptakan dinamika persaingan yang ketat di kawasan Asia Tenggara. Vietnam yang tidak memiliki pasar domestik sebesar Indonesia, secara otomatis memaksa seluruh investasi yang masuk ke negara mereka untuk berorientasi pada ekspor. Hal inilah yang membuat laju ekspor Vietnam tumbuh sangat cepat dan menjadi mesin utama penggerak ekonomi mereka.




