lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyusun strategi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di pasar global. Targetnya tidak main-main, yakni menempatkan produksi rumput laut nasional di posisi nomor satu di dunia. Langkah ambisius ini diambil sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri berbasis kelautan yang terintegrasi.
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk mempersiapkan seluruh infrastruktur dan ekosistem yang dibutuhkan. Hal ini disampaikan dalam acara peluncuran Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) periode 2026-2030 yang berlangsung di Jakarta Pusat. Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan Kementerian PPN/Bappenas guna memastikan pengembangan rumput laut berjalan secara terstruktur.

Sarmuji menjelaskan bahwa fokus utama pemerintah bukan sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan mendorong proses hilirisasi secara masif. Dengan melakukan hilirisasi, Indonesia dapat menciptakan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi. "Kami siap mengambil langkah konkret untuk membangun ekosistem industri ini. Ini adalah potensi baru yang sangat membanggakan bagi bangsa," ujar Sarmuji dalam keterangan resminya.
Potensi rumput laut Indonesia memang sangat luar biasa. Komoditas ini tidak hanya terbatas pada sektor pangan, tetapi memiliki spektrum penggunaan yang sangat luas. Rumput laut dapat diolah menjadi agar-agar, karagenan, hingga menjadi bahan baku penting dalam industri farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, hingga pembuatan bioplastik yang ramah lingkungan.
Secara ekonomi, pengembangan sektor ini sangat relevan dengan performa manufaktur nasional yang sedang menunjukkan tren positif. Data menunjukkan bahwa industri pengolahan nonmigas terus tumbuh stabil, memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan ekspor nasional. Dengan posisi Indonesia yang sudah menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara dalam nilai tambah manufaktur, penguatan di sektor rumput laut akan semakin memperkokoh dominasi ekonomi Indonesia.
Namun, untuk mencapai target dunia tersebut, Kemenperin menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Pembangunan ekosistem ini memerlukan keterlibatan investasi swasta, dukungan riset dan teknologi, inovasi berkelanjutan, serta pembiayaan yang memadai. Selain itu, pemerintah juga mengusung konsep ekonomi biru (blue economy), di mana pertumbuhan industri harus berjalan selaras dengan kelestarian ekosistem laut.
Strategi ini nantinya akan dituangkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026-2045. Dengan perencanaan yang matang dari hulu hingga hilir, diharapkan industri rumput laut tidak hanya memberikan keuntungan bagi korporasi, tetapi juga menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi kesejahteraan masyarakat di sentra-sentra produksi pesisir Indonesia.




