Jakarta, Lahatsatu.com – Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 sebesar 5,12% (year on year/yoy) menuai sorotan tajam dari sejumlah ekonom. Mereka meragukan validitas data tersebut, menilai tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mempertanyakan kredibilitas data BPS, terutama pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang diklaim tumbuh 6,99%. Bhima menilai angka ini tidak realistis mengingat tekanan yang dialami sektor industri manufaktur dalam negeri.

"Ada keraguan, karena di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, kok investasi bisa naik tinggi dari PMTB? Ini menimbulkan pertanyaan terhadap kredibilitas data BPS," ujar Bhima. Ia menambahkan, kontraksi pada sektor industri manufaktur, tercermin dari penurunan PMI manufaktur, seharusnya berdampak pada pelemahan komponen PMTB.
"Jika PMI manufaktur turun, sementara pertumbuhan industri manufaktur naik tinggi, ada data yang janggal dan tidak sinkron. BPS perlu memberikan penjelasan lebih detail," tegasnya. Bhima mempertanyakan bagaimana mungkin industri manufaktur tumbuh di tengah gelombang PHK, efisiensi, dan dampak kebijakan tarif lokal Amerika.
Senada dengan Bhima, Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, juga mempertanyakan lonjakan PMTB yang mencapai 7%. Menurutnya, perlambatan kredit investasi saat ini menjadi faktor yang kontradiktif dengan pertumbuhan PMTB yang signifikan.
"PMTB naik drastis, padahal kita tahu investasi, baik pemerintah maupun masyarakat, serta kredit investasi sedang bermasalah. Kenaikan PMTB biasanya terjadi pada triwulan III atau IV, saat banyak pembangunan gedung dan konstruksi. Mengapa triwulan II naik begitu tinggi? Ini yang perlu dipertanyakan," ungkap Tauhid.
Ekonom CELIOS, Nailul Huda, menyoroti kejanggalan pertumbuhan ekonomi kuartal II yang lebih tinggi dari kuartal I-2025. Padahal, kuartal I memiliki momen Lebaran yang biasanya menjadi pendorong ekonomi melalui peningkatan konsumsi rumah tangga.
"Pertumbuhan ekonomi triwulan II yang lebih tinggi dibandingkan triwulan dengan momen Ramadan-Lebaran terasa janggal. Biasanya, pertumbuhan triwulan tertinggi adalah saat ada momen Ramadan-Lebaran," jelas Nailul.
Ia juga menyoroti pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya 4,96%, dengan kontribusi 50% terhadap PDB. Menurutnya, angka ini tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai 4,87%, padahal tidak ada faktor pendorong signifikan pada kuartal II.
Nailul juga menyoroti pertumbuhan sektor industri pengolahan yang mencapai 5,68%, jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025. Padahal, PMI manufaktur Indonesia berada di bawah 50 poin selama April-Juni 2025, menandakan adanya tekanan pada sektor industri manufaktur.
Atas dasar berbagai kejanggalan ini, Nailul meragukan akurasi data BPS dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025. Ia mendesak BPS untuk memberikan penjelasan rinci mengenai metodologi, indeks, dan indikator perhitungan yang digunakan.
"BPS harus menjelaskan secara detail metodologi yang digunakan, termasuk indeks untuk menarik angka nilai tambah bruto sektoral dan juga pengeluaran," tegasnya.




