Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprotes, Luhut: "Sudah Bagus!"

Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menanggapi beragamnya kritik terhadap data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II tahun 2025 yang mencapai 5,12%

Agus sujarwo

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprotes, Luhut: "Sudah Bagus!"

Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menanggapi beragamnya kritik terhadap data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II tahun 2025 yang mencapai 5,12% (year-on-year). Sejumlah ekonom meragukan kredibilitas data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut, karena dinilai melampaui ekspektasi dan prediksi berbagai pihak.

Menanggapi keraguan tersebut, Luhut justru menilai bahwa angka pertumbuhan tersebut sudah cukup baik. Bahkan, ia meyakini pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi jika kebijakan deregulasi berjalan efektif. "Saya kira sudah bagus, bisa lebih tinggi kalau kita deregulasinya jalan," ujarnya usai menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (6/8/2025).

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diprotes, Luhut: "Sudah Bagus!"
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkapkan keraguan atas kredibilitas data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025. Ia menyoroti sejumlah komponen perhitungan, seperti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,99%, dinilai tidak sesuai dengan kondisi sektor industri manufaktur yang tengah tertekan.

"Ada keraguan dong. Karena situasi ekonomi sekarang terutama dari investasi, kok di tengah ketidakpastian ada kenaikan investasi yang cukup tinggi dari PMTB. Nah ini juga menjadi salah satu keraguan terhadap kredibilitas data BPS," kata Bhima.

Bhima menjelaskan bahwa kontraksi di sektor industri manufaktur, tercermin dari penurunan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur, seharusnya sejalan dengan pelemahan komponen PMTB. Ia mempertanyakan mengapa investasi dalam bentuk aset tetap meningkat di tengah tekanan industri.

Ekonom Lahatsatu, Nailul Huda, juga menyampaikan ketidakpercayaannya terhadap data BPS. Ia menyoroti ketidaksinkronan antara data pertumbuhan ekonomi dengan berbagai indikator. Beberapa kejanggalan yang ia soroti antara lain: pertumbuhan ekonomi triwulan II yang lebih tinggi dibandingkan triwulan dengan momen Ramadhan-Lebaran, pertumbuhan industri pengolahan yang tidak sejalan dengan PMI manufaktur, serta pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang dinilai tidak mencerminkan kondisi riil.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, bahkan memproyeksikan angka pertumbuhan kuartal II tidak akan mencapai 5%. Ia mengaku terkejut dengan angka 5,12% yang dirilis pemerintah, karena jauh di atas perkiraannya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1