Jakarta – Sebuah laporan terbaru dari perusahaan analisis blockchain, Chainalysis, mengungkap fakta mengejutkan: peretas asal Korea Utara diduga berada di balik lebih dari setengah kasus pencurian aset kripto global sepanjang tahun 2024. Total kerugian akibat aksi kejahatan siber ini mencapai US$ 1,34 miliar dari 47 insiden.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2023, di mana peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara berhasil mencuri US$ 660,5 juta. Artinya, terjadi lonjakan pencurian hingga lebih dari dua kali lipat (102,88%) dalam kurun waktu satu tahun. Chainalysis mencatat bahwa pencurian yang melibatkan peretas Korut ini mencapai 61% dari total pencurian kripto global di tahun 2024 dan mencakup 20% dari seluruh insiden pencurian.

Tren ini, menurut Chainalysis, bukanlah hal baru. Peretasan aset kripto telah menjadi ancaman yang konsisten selama lima tahun terakhir (2018, 2021, 2022, 2023, dan 2024). Laporan tersebut menyoroti korelasi antara peningkatan adopsi dan harga kripto dengan jumlah aset yang berhasil dicuri. Semakin tinggi nilai kripto, semakin besar pula potensi kerugian akibat peretasan.
Data Lahatsatu menunjukkan bahwa hingga Juli 2024, nilai kripto yang dicuri mencapai US$ 1,58 miliar, meningkat sekitar 84,4% dibandingkan periode yang sama di tahun 2023. Pada titik ini, tren menunjukkan potensi pencurian yang bisa menyamai angka tahun 2021 dan 2022, yang masing-masing mencatat kerugian lebih dari US$ 3 miliar. Namun, laju peningkatan pencurian mulai melambat setelah Juli dan relatif stabil hingga akhir tahun. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi industri kripto dan membutuhkan langkah-langkah keamanan yang lebih canggih untuk mencegah aksi kejahatan siber serupa di masa mendatang.




