Jakarta – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mengguncang stabilitas rantai pasok pupuk global. Wilayah Timur Tengah, yang dikenal sebagai lumbung minyak, juga merupakan produsen utama pupuk amonia dan urea dunia. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran mengancam jalur distribusi sekitar 45% pupuk yang diperdagangkan secara internasional.
Situasi ini mendorong sejumlah negara untuk mencari alternatif sumber pasokan pupuk demi menjaga ketahanan pangan. India, sebagai salah satu negara yang terdampak, kini gencar menjalin komunikasi dengan berbagai negara produsen dan eksportir pupuk berbasis nitrogen dan fosfat. Langkah ini diambil pemerintah India untuk memastikan pengadaan pupuk secara langsung, tanpa bergantung pada importir atau sektor swasta.

Sumber Lahatsatu menyebutkan bahwa pejabat India telah menghubungi Indonesia, Rusia, Malaysia, Vietnam, Aljazair, hingga Mesir untuk meminta pasokan urea dan amonium fosfat. Kedua jenis pupuk ini krusial untuk mendukung produksi padi, kedelai, dan jagung yang menjadi makanan pokok masyarakat India.
"India, sebagai pengimpor urea terbesar di dunia, kemungkinan akan menunda tender impor karena pemerintah berupaya melakukan pembelian langsung dari produsen utama," ungkap seorang sumber anonim kepada Bloomberg.
Selain negara-negara tersebut, pemerintah India juga tengah bernegosiasi dengan China, Maroko, Australia, Yordania, Kanada, Finlandia, dan Togo untuk mendapatkan pasokan tambahan. Dikabarkan, sekitar 16 kedutaan India di luar negeri aktif berkoordinasi untuk mengamankan sumber pupuk alternatif.
Di dalam negeri, pemerintah India mengimbau pemerintah daerah untuk mendorong penggunaan pupuk secara bijak dan mencegah praktik penimbunan. Permintaan pupuk diperkirakan akan meningkat mulai pertengahan Mei, seiring persiapan petani untuk musim tanam hujan di bulan Juni.



