Jakarta, 20 Desember – Survei terbaru Reputasi ID Insight Center (RIC) dan OVO Finansial mengungkap peran penting PayLater bagi generasi Z dan Milenial Indonesia. Bukan hanya untuk belanja, mayoritas pengguna memanfaatkannya untuk mengatur arus kas harian. Laporan bertajuk "Persepsi dan Motif Penggunaan PayLater pada Gen Z dan Milenial" menunjukkan 48% responden dari kelompok usia tersebut menggunakan PayLater untuk memenuhi kebutuhan rutin, seperti belanja rumah tangga. Direktur Riset RIC, Gundy Cahyadi, menjelaskan, "Riset ini menunjukkan PayLater membantu Gen Z dan Milenial mengalokasikan dan mencatat pengeluaran bulanan mereka."
Survei tersebut juga menunjukkan penerimaan positif terhadap PayLater. Dua dari tiga pengguna merasa nyaman dan menganggapnya bermanfaat. Menariknya, 51,9% responden mengaku memiliki kondisi keuangan terbatas, sementara sisanya (48,1%) menyatakan keuangan mereka sehat.

PayLater menjadi solusi pembiayaan jangka pendek yang efektif. Sebelumnya, banyak yang mengandalkan tabungan pribadi atau meminjam dari teman/keluarga. Namun, setelah kemunculan PayLater, persentase Gen Z dan Milenial yang meminjam dari teman/keluarga turun drastis dari 43,9% menjadi 23,2%. Begitu pula penggunaan tabungan yang menurun dari 44,6% menjadi 26%.
Gundy menambahkan, "PayLater sebagai produk keuangan membuka peluang untuk membantu mereka yang membutuhkan bantuan keuangan jangka pendek."
Presiden Direktur OVO Finansial, Riady Nata, menyatakan optimisme terhadap tren PayLater. "OVO Finansial berkontribusi pada inklusi keuangan di Indonesia melalui fitur OVO|PayLater. Fitur ini memudahkan pengguna Grab mengakses berbagai layanan, seperti GrabFood, GrabCar, dan lainnya," ujarnya. OVO|PayLater menawarkan akses yang lebih luas dengan penilaian kredit yang ketat, bebas biaya untuk pengguna baru, dan promo menarik.
Survei RIC juga mengungkap sejumlah manfaat PayLater di mata Gen Z dan Milenial. Sebanyak 63,1% responden menilai proses aplikasi mudah dan cepat. Kegunaan yang beragam (56,7%), pembayaran fleksibel (52,2%), dan tanpa jaminan fisik (50,9%) juga menjadi daya tarik. Dari sisi keamanan, mayoritas merasa aman karena pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (61,4%), reputasi platform yang baik (51,8%), jaminan kerahasiaan data (50,2%), dan perusahaan penyedia yang besar dan terpercaya (49,6%).
Gundy menegaskan, "PayLater, sebagai produk keuangan yang diawasi OJK, mendapat sambutan positif dan berperan penting dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia." Bahkan, 31,4% responden mengaku akan membatalkan transaksi jika tidak tersedia opsi pembayaran via PayLater.
Survei ini melibatkan 2.153 responden (pengguna PayLater) berusia 21-42 tahun di 10 kota, menggunakan metode purposive sampling, dan dilakukan pada pertengahan 2024.




