Paket Stimulus Ekonomi Pemerintah Dikritik: Hanya Sementara dan Berorientasi Konsumsi

Jakarta – Paket stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah dinilai kurang menyentuh akar permasalahan ekonomi dan hanya berfokus pada peningkatan konsumsi. Para pengamat ekonomi menilai, stimulus

Agus sujarwo

Paket Stimulus Ekonomi Pemerintah Dikritik: Hanya Sementara dan Berorientasi Konsumsi

Jakarta – Paket stimulus ekonomi yang digelontorkan pemerintah dinilai kurang menyentuh akar permasalahan ekonomi dan hanya berfokus pada peningkatan konsumsi. Para pengamat ekonomi menilai, stimulus ini bersifat temporer dan tidak berkelanjutan, serta kurang efektif dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Yanuar Rizki, seorang pengamat ekonomi, menekankan pentingnya insentif pajak yang tepat sasaran untuk mendorong daya beli masyarakat. Menurutnya, pemerintah perlu mengidentifikasi barang-barang konsumsi yang banyak dibeli oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, dan memberikan insentif pada barang-barang tersebut.

Paket Stimulus Ekonomi Pemerintah Dikritik: Hanya Sementara dan Berorientasi Konsumsi
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Artinya kalau sekarang kita mau melakukan (mendongkrak) daya beli, apa yang selama ini dilakukan transaksi dari kelas menengah, ke kelas di bawahnya. Itu harus diidentifikasi. Itu yang harus diberikan insentif barang itu. Barang itu diberikan insentif sehingga ada daya beli," ujar Yanuar.

Selain itu, Yanuar juga menyoroti perlunya perluasan cakupan Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk menjangkau pekerja sektor informal dan kelas menengah yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Ia menilai, pemberian BSU kepada kelompok ini akan lebih efektif dalam menjaga daya beli masyarakat.

Wijayanto Samirin, Ekonom Universitas Paramadina, mengkritik stimulus yang bersifat konsumtif karena dianggap boros APBN dan tidak berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya stimulus yang mendorong efisiensi, produktivitas ekonomi, dan daya saing industri.

"Sifat lima stimulus ini adalah konsumtif, jika insentif diakhiri maka pertumbuhan ekonomi akan melambat; selain boros APBN juga tidak berkelanjutan," jelasnya.

Wijayanto menyarankan pemerintah untuk menghadirkan stimulus yang dapat memicu aktivitas ekonomi baru, seperti proyek padat karya, subsidi KPR rumah sederhana, relaksasi perjalanan dinas, serta insentif untuk nelayan dan petani.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai paket stimulus ini hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh aspek fundamental ekonomi. Ia khawatir dampak stimulus akan hilang begitu program berakhir.

"Sehingga begitu sudah selesai paket stimulusnya, dampaknya dikhawatirkan akan kembali turun terhadap konsumsi, kembali ke posisi sebelum diberikan stimulus. Artinya ini temporary, sifatnya bukan yang mendasar mengangkat dari sisi daya beli secara permanen," terangnya.

Faisal memperkirakan, dengan paket stimulus yang ada, pertumbuhan ekonomi tahun ini maksimal hanya mencapai 4,8%, masih di bawah target 5%.

Pemerintah sendiri telah mengalokasikan dana sebesar Rp 24,44 triliun untuk paket stimulus ekonomi periode Juni-Juli 2025, dengan mayoritas anggaran berasal dari APBN. Namun, efektivitas stimulus ini dalam jangka panjang masih menjadi pertanyaan besar di kalangan pengamat ekonomi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1