Jakarta, Lahatsatu.com – Sektor ekonomi kreatif terus digenjot pemerintah sebagai fondasi baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Target ambisius pun dicanangkan, termasuk kontribusi terhadap PDB hingga 8,37% pada 2029 dan nilai ekspor mencapai US$ 32,94 miliar. Animasi, video, musik, aplikasi, dan gim didaulat menjadi ujung tombak pencapaian target tersebut.
Namun, di balik gemerlap angka, tersimpan potensi besar yang belum sepenuhnya digali: kekuatan budaya populer, khususnya fenomena global One Piece, dalam mendongkrak ekonomi kreatif Indonesia.

Belum lama ini, pengibaran bendera bajak laut One Piece menjelang HUT RI ke-80 menuai beragam reaksi. Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, terungkap fakta bahwa simbol One Piece, terutama Jolly Roger Topi Jerami, memiliki makna lebih dalam bagi jutaan penggemar di Indonesia. Simbol ini merepresentasikan perlawanan terhadap ketidakadilan, semangat kebebasan berekspresi, dan solidaritas.
Fenomena One Piece yang tumbuh secara organik ini membuktikan bahwa budaya populer dapat menjadi wadah aspirasi sosial yang damai, sekaligus sumber ekonomi yang menjanjikan.
Ekonomi Bajak Laut: Peluang yang Terbentang Luas
Kesuksesan One Piece dengan penjualan lebih dari 500 juta kopi manga di seluruh dunia, membuktikan bahwa karya kreatif global dapat menghasilkan pendapatan miliaran dolar. Lebih dari sekadar hiburan, One Piece telah menjadi mesin ekonomi raksasa yang merambah berbagai sektor, mulai dari merchandise, film, taman hiburan, hingga kolaborasi dengan merek ternama.
Kekuatan One Piece terletak pada narasinya yang kuat. Petualangan Luffy bukan hanya tentang aksi bajak laut, tetapi juga tentang nilai-nilai persahabatan, keberanian, dan kritik sosial. Hal ini membuka mata kita tentang bagaimana sebuah karya kreatif dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang luas, berbasis Intellectual Property (IP).
Indonesia memiliki basis penggemar One Piece yang sangat besar. Mereka bukan hanya konsumen pasif, tetapi juga produsen konten kreatif. Ilustrator fan art, cosplayer, pembuat merchandise lokal, dan content creator di media sosial adalah bagian integral dari ekosistem ekonomi kreatif yang harus dipandang sebagai potensi besar.
Mendorong Kreativitas Lokal: Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Untuk memaksimalkan potensi ini, pemerintah dan pelaku industri harus serius mendukung talenta kreatif lokal. Kolaborasi antara pemegang lisensi budaya populer dan UMKM dapat membuka pasar baru dan mendorong inovasi produk. Potensi wisata dan kuliner berbasis tema budaya populer juga menjadi peluang besar untuk menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan.
Karya-karya lokal seperti Si Juki karya Faza Meonk, Nussa dan Rara karya The Little Giantz, serta BumiLangit Universe dengan karakter Gundala dan Sri Asih, membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menciptakan IP lokal yang kuat, dengan fanbase yang solid dan potensi monetisasi besar.
Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang mendukung kreativitas komunitas, termasuk penguatan infrastruktur kreatif, pemberdayaan talenta lokal, dan peningkatan akses pembiayaan untuk industri kreatif.
Fenomena One Piece membuktikan bahwa ekonomi kreatif Indonesia bukan hanya soal produk, tetapi juga soal makna dan narasi. Komunitas kreatif memiliki kemampuan untuk mengolah simbol global menjadi ekspresi lokal yang relevan dengan kondisi sosial Indonesia.
Potensi ini, jika dikelola dengan baik, dapat menguatkan identitas budaya dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Indonesia harus memanfaatkan potensi budaya pop dan subkultur kreatif sebagai bagian integral dari strategi ekonomi nasional agar tidak tertinggal dalam gelombang ekonomi kreatif global.
Pemerintah, pelaku industri, dan komunitas kreatif perlu bersinergi, bukan untuk mengekang kreativitas, tetapi untuk memastikan bahwa setiap ekspresi, simbol, dan cerita dapat menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju bangsa kreatif yang berdaya saing di tingkat global.




