Misteri Pengadaan 30 Rangkaian KRL Baru

lahatsatu.com – Kabar mengenai penambahan armada Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek kini tengah menjadi sorotan publik. Setelah sekian lama dinanti, Kementerian Perhubungan (Kemenhub)

Agus sujarwo

Misteri Pengadaan 30 Rangkaian KRL Baru

lahatsatu.com – Kabar mengenai penambahan armada Kereta Rel Listrik (KRL) di wilayah Jabodetabek kini tengah menjadi sorotan publik. Setelah sekian lama dinanti, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akhirnya memberikan penjelasan terkait progres dan skema pengadaan 30 rangkaian KRL baru yang menjadi instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diharapkan menjadi solusi atas masalah klasik yang selama ini menghantui para komuter, yakni kepadatan penumpang yang ekstrem pada jam sibuk.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwaghandi, mengungkapkan bahwa komitmen pengadaan armada tambahan ini berakar dari arahan Presiden saat meresmikan revitalisasi Stasiun Tanah Abang Baru pada November 2025 lalu. Dalam momen tersebut, Presiden Prabowo secara tegas memberikan dukungan penuh agar PT KAI (Persero) segera merealisasikan penambahan unit kereta guna meningkatkan kualitas layanan transportasi publik.

Misteri Pengadaan 30 Rangkaian KRL Baru
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Perlu diingat bahwa saat peresmian Stasiun Tanah Abang, Presiden menyampaikan dukungannya terhadap pengadaan kereta baru oleh KAI. Jadi, kami melihat adanya komitmen kuat dari Presiden untuk memenuhi kebutuhan ini," ujar Dudy dalam sesi media briefing di Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).

Menariknya, Presiden Prabowo sebelumnya sempat memberikan sinyal dukungan finansial yang sangat besar, yakni suntikan dana hingga Rp5 triliun untuk memuluskan proyek pengadaan 30 rangkaian atau trainset KRL tersebut. Namun, Dudy menjelaskan bahwa rincian teknis mengenai bagaimana dana tersebut akan dikelola sepenuhnya berada di luar kewenangan langsung Kemenhub. Hal ini dikarenakan proses pengadaan sarana merupakan ranah operasional PT KAI serta koordinasi dengan lembaga terkait seperti Danantara.

Dudy menambahkan bahwa ia telah menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian BUMN dan pihak Danantara untuk memastikan sinkronisasi kebijakan. "Saya sudah berkomunikasi dengan Kementerian BUMN dan Pak Doni Oskaria selaku COO Danantara. Jadi, koordinasi antar-institusi sudah berjalan," tambahnya.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Perkeretaapian, Allan Tandiono, memberikan klarifikasi penting mengenai jumlah armada. Ia menegaskan bahwa tambahan 30 trainset ini merupakan program baru yang terpisah dari komitmen pengadaan 35 trainset yang sudah disepakati sejak tahun 2023. Dengan kata lain, total penambahan armada akan jauh lebih besar dari rencana awal.

Allan menilai kehadiran 30 rangkaian baru ini sangat krusial untuk mengatasi masalah over capacity yang kerap terjadi di jam-jam sibuk. Selain menambah kapasitas angkut, kereta baru ini diproyeksikan akan menggantikan armada lama yang sudah tidak layak.

"Jika 30 trainset tambahan ini hadir, mereka akan memiliki rangkaian yang lebih panjang, bodi lebih lebar, dan teknologi yang lebih mumpuni dibandingkan kereta lama yang sering mengalami kendala pada pintu atau kapasitas terbatas. Ini akan sangat membantu mengangkut lebih banyak penumpang secara efisien," jelas Allan.

Terkait mekanisme pencairan anggaran Rp5 triliun yang sempat mencuat, Kemenhub menegaskan bahwa hal tersebut merupakan domain PT KAI sebagai badan usaha penyelenggara sarana. Masyarakat kini menanti kapan realisasi fisik dari kereta-kereta baru ini dapat dinikmati untuk mengurai kemacetan dan kepadatan di jalur Commuter Line.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar