lahatsatu.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan tegas membantah keras tudingan yang beredar luas mengenai praktik akuisisi lahan warga Papua dengan harga tak wajar, bahkan disebut-sebut di bawah Rp100 ribu per hektare. Amran menegaskan bahwa informasi tersebut adalah hoaks keji yang sama sekali tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Penegasan ini disampaikan Amran dalam sebuah acara bertajuk ‘Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak’ di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Acara yang dihadiri sekitar 2.000 kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari seluruh Indonesia ini menjadi platform bagi Amran untuk meluruskan narasi yang menyesatkan. Muhammad Tamim Setiaji, delegasi IPM dari Kota Tangerang Selatan, Banten, dalam sesi dialog, mempertanyakan kebenaran informasi tersebut dan meminta penjelasan agar generasi muda dapat menyikapi isu ini secara rasional.

"Kabar bohong itu tersebar luas, salah satunya soal harga tanah Rp100 ribu per hektare. Ini adalah fitnah yang sangat kejam terhadap pemerintah, termasuk kami yang menjalankan program. Faktanya jauh berbeda," ujar Amran dalam keterangannya.
Amran menjelaskan, program pengembangan pertanian di Papua tidak pernah melibatkan perampasan atau pengambilalihan kepemilikan tanah masyarakat. Sebaliknya, pemerintah justru membangun area persawahan baru yang sepenuhnya menjadi hak milik masyarakat setempat. Tak hanya itu, pemerintah juga melengkapi lahan-lahan tersebut dengan berbagai fasilitas penunjang dan alat mesin pertanian secara cuma-cuma.
Hingga saat ini, Amran menyebutkan bahwa pemerintah telah berhasil mengembangkan sekitar 137 ribu hektare lahan pertanian di Papua. Seluruh area tersebut tetap menjadi aset warga lokal, sementara pemerintah menggelontorkan bantuan bernilai triliunan rupiah untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. "Sawah-sawah itu milik rakyat, bukan milik negara. Kami berikan alat mesin pertanian gratis, irigasi kami bangun. Semua ini untuk masyarakat," tegasnya.
Selain itu, pemerintah juga mengirimkan ratusan alsintan modern, membentuk Brigade Pangan, membangun jaringan irigasi, serta mendukung pengembangan komoditas unggulan lokal seperti sagu dan kelapa. Amran menekankan bahwa berbagai isu negatif yang beredar justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Banyak warga Papua yang telah merasakan langsung dampak positif program ini melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian dalam mengelola lahan.
Ia mencontohkan kesaksian petani yang mengelola 3 hingga 4 hektare lahan garapan dan mampu meraup penghasilan bersih hingga belasan juta rupiah setiap bulan. "Petani di sana sendiri yang bercerita, mereka mendapat lahan untuk dikelola dan penghasilannya melonjak hingga sekitar Rp15 juta sampai




