Jakarta, Lahatsatu.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, memberikan tanggapannya terkait rencana pemerintah untuk mengantisipasi potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Rencana ini muncul sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, menyampaikan bahwa target defisit APBN di bawah 3% akan sulit dipertahankan. Pemerintah pun menyiapkan skenario dengan defisit di atas angka tersebut.

Namun, Luhut menilai bahwa skenario tersebut belum mendesak untuk diterapkan. Ia meyakini kondisi fiskal Indonesia saat ini masih terjaga dengan baik, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan terkait potensi pelebaran defisit APBN.
"Rekomendasi kami, kondisi masih terkendali, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita tetap waspada dan terus memantau perkembangan di luar. Koordinasi dengan Menteri Keuangan juga menunjukkan fiskal kita masih sangat prudent," ujar Luhut.
Luhut menekankan perlunya pertimbangan matang sebelum memutuskan untuk menaikkan target defisit APBN. "Untuk menaikkan budget defisit, perlu kita pertimbangkan hati-hati. Sedang kita siapkan, tapi kapan dilakukan, kita lihat perkembangan situasi," imbuhnya.
Sebelumnya, Airlangga telah memaparkan beberapa simulasi yang disusun pemerintah berdasarkan proyeksi kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, dan imbal hasil surat utang negara. Skenario-skenario tersebut menunjukkan potensi defisit APBN yang bervariasi, bahkan dapat melampaui 4% dari PDB dalam kondisi terburuk.
Airlangga menyebutkan bahwa salah satu cara untuk mempertahankan defisit di bawah 3% adalah dengan memangkas belanja negara atau menurunkan target pertumbuhan ekonomi.




























