Rencana pemerintah melarang penggunaan BBM subsidi oleh pengemudi ojek online (ojol) dan taksi online menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, pengeluaran BBM merupakan porsi signifikan dari pendapatan mereka.
Suwandi, seorang driver Maxim, misalnya, menghabiskan Rp45.000 hingga Rp50.000 per hari untuk membeli Pertalite. "Susahnya lagi, Pertalite sering habis di SPBU. Kalau dilarang pakai subsidi, dampaknya akan sangat terasa," keluhnya. Apalagi, ia sering harus keliling mencari orderan, sehingga konsumsi BBM pun meningkat. Pendapatannya sendiri hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari.

Igun Wicaksono, Ketua Umum Garda, mengungkapkan bahwa pengeluaran BBM ojol bisa mencapai 50%-60% dari total pendapatan. Belum lagi potongan biaya aplikasi dari platform seperti Gojek, Grab, Maxim, dan inDrive. "Pak Bahlil harus lihat kondisi di lapangan. Banyak driver yang bahkan rela menahan lapar demi bisa mengisi bensin subsidi," tegasnya.
Wiwit Sudarsono, Sekretaris Jenderal PAS INDONESIA, menambahkan bahwa konsumsi BBM ojol mencapai 3-5 liter per hari. Ia khawatir larangan ini akan meningkatkan pengangguran karena driver akan kesulitan beroperasi dengan biaya operasional yang membengkak dan potensi penurunan permintaan akibat kenaikan tarif.
Hal senada disampaikan Taha Syafariel, Ketua Umum ADO. Ia menyebut pengeluaran BBM taksi online minimal 20 liter per hari, sementara ojol 4-5 liter. "Demo soal tarif ojol yang terus menurun saja sudah sering terjadi. Bayangkan kalau BBM subsidi dihilangkan," ujarnya.
Para perwakilan driver ini berharap pemerintah mempertimbangkan nasib mereka dan memberikan solusi, misalnya dengan memberikan subsidi serupa UMKM atau mengubah status ojol menjadi angkutan umum. Ancaman ini jelas menimbulkan keresahan di kalangan driver online yang sebagian besar menggantungkan hidup dari profesi ini.




























