Kranji Mati Suri: Pedagang Merana, Terancam Gulung Tikar!

Bekasi – Pertokoan Kranji, Bekasi, kini bagai kota mati. Sepinya pengunjung telah menjadi pemandangan sehari-hari yang memilukan bagi para pedagang. Kondisi ini begitu parah hingga

Agus sujarwo

Kranji Mati Suri: Pedagang Merana, Terancam Gulung Tikar!

Bekasi – Pertokoan Kranji, Bekasi, kini bagai kota mati. Sepinya pengunjung telah menjadi pemandangan sehari-hari yang memilukan bagi para pedagang. Kondisi ini begitu parah hingga sejumlah pedagang terpaksa bersiap untuk menutup usahanya.

Edi, seorang pedagang pakaian, mengungkapkan bahwa dulu Kranji adalah pusat perbelanjaan yang ramai. Ia bahkan sering kewalahan melayani pembeli. Namun, sejak maraknya toko online, jumlah pengunjung terus merosot. Pandemi Covid-19 semakin memperparah keadaan.

Kranji Mati Suri: Pedagang Merana, Terancam Gulung Tikar!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Dulu online sudah ada, pas Covid parah banget. Tapi masih mending Covid. Sekarang malah lebih parah, nggak ada pengunjung," keluh Edi.

Akibat sepinya pembeli, Edi terpaksa menutup satu dari dua tokonya. Jumlah karyawannya pun berkurang drastis, dari empat menjadi hanya satu orang. Penghasilan yang minim membuatnya sering pulang dengan tangan hampa dan terpaksa menggunakan tabungan untuk bertahan hidup.

"Uang simpanan habis. Kayaknya nggak lama lagi, pengunjungnya nggak ada. Mungkin sampai habis kontrak Januari 2026. Kalau memang nggak sanggup, ya nggak dipaksa," ujarnya pasrah.

Edi mengaku bingung mencari alternatif usaha lain. "Kita sudah putar-putar cari mau usaha apa. Kalau nggak usaha, kita di sini mau makan apa?"

Senada dengan Edi, Julia, pedagang perabot rumah tangga, mengatakan bahwa omzetnya turun drastis hingga 80%. Bahkan, tak jarang ia tidak mendapatkan satu pun pelanggan dalam sehari.

"Pas pandemi masih mending. Setelah pandemi makin ke sini malah makin sepi. Paling yang datang cuma langganan saja, itu pun jarang," ungkap Julia.

Untuk bertahan, Julia juga terpaksa mengurangi jumlah karyawan dari tujuh menjadi tiga orang. Ia bersyukur masih bisa menjual sebagian dagangannya secara online, meski hanya cukup untuk memutar modal.

"Online ada sedikit-sedikit. Buat putaran modal doang, nutup sih nggak. Sekarang sih (penjualan) lebih banyak online ya. Lebih dari setengah, sekitar 80% juga lah itu dari online," jelasnya.

Namun, jika kondisi ini terus berlanjut, Julia juga tak punya pilihan selain gulung tikar. "Rencana mau tutup. Kalau kita nombok-nombok terus kan ini sih kita milih tutup," pungkasnya. Nasib para pedagang di Pertokoan Kranji kini berada di ujung tanduk, terhimpit sepinya pembeli dan persaingan ketat dengan toko online.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar