Jakarta – Masalah sampah di Indonesia telah mencapai titik mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan serius. Data menunjukkan bahwa timbunan sampah nasional mencapai 64 juta ton per tahun, dimana sekitar 7,68 juta ton adalah sampah plastik. Kondisi ini menuntut kolaborasi dari berbagai pihak untuk mencari solusi efektif.
Bijaksana Junerosano, Founder Greeneration Indonesia Waste4Change, menekankan bahwa masalah sampah merupakan krisis global, meskipun tingkatannya bervariasi di setiap negara. Negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tantangan utama, yaitu minimnya infrastruktur pengangkutan dan pengolahan sampah.

"Ini adalah krisis global. Semua negara, termasuk negara maju, memiliki tantangan tersendiri. Di negara berkembang seperti Indonesia, tantangan utamanya adalah belum terbangunnya infrastruktur untuk pelayanan pengangkutan dan pengolahan sampah," ujar Bijaksana dalam sebuah forum diskusi.
Namun, Bijaksana juga menyoroti bahwa infrastruktur bukanlah satu-satunya penyebab masalah sampah. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengelolanya dengan baik turut memperparah situasi.
"Karena bakar di depan rumah gratis, buang sampah di sungai gratis. Jadi, tidak ada alasan yang cukup untuk mengatasi masalah sampah," ungkapnya.
Oleh karena itu, peran pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat krusial dalam mengatasi masalah ini. Pemerintah daerah diharapkan memberikan perhatian lebih pada masalah sampah dan menegakkan hukum terkait pengelolaan sampah.
"Pemerintah daerah tidak bisa duduk tenang. Mereka harus bertanggung jawab sesuai amanah undang-undang. Poin kritisnya adalah memastikan para pemimpin di pemerintah kota atau kabupaten betul-betul menerapkan dan menjalankan perannya," tegasnya.
Sektor swasta juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan produk yang dihasilkan tidak menjadi sampah dan mencemari lingkungan. Produsen harus bertanggung jawab atas produk atau kemasan pasca konsumsi.
Kolaborasi antara Yayasan Lohjinawi dan Unilever Indonesia menjadi contoh sukses dalam mengatasi masalah sampah. Unilever Indonesia telah mendampingi Yayasan Lohjinawi sejak tahun 2005 untuk mewujudkan lingkungan bersih dan bebas sampah.
Yasmin, Ketua Yayasan Lohjinawi, mengakui bahwa kolaborasi dengan Unilever Indonesia telah memberikan pelatihan kepada masyarakat dan berhasil mereduksi sampah hingga 20 ton per bulan.
"Alhamdulillah, kolaborasi dengan Unilever Indonesia memberikan banyak pelatihan kepada masyarakat. Setiap bulan, kita bisa mereduksi 20 ton sampah. Kedepannya, kita berharap bisa lebih banyak lagi dan membentuk bank sampah di kota-kota lain," tutupnya.
Bijaksana menambahkan, Waste4Change juga merasakan manfaat dari kepercayaan yang diberikan oleh Unilever Indonesia sejak awal pendiriannya. Gedung perusahaan tersebut dikelola secara bertanggung jawab dengan prinsip zero waste to landfill.




