Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan alasan di balik pemberian insentif sebesar Rp 6 juta per hari kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa insentif ini diberikan sebagai kompensasi atas investasi awal dan berbagai risiko operasional yang ditanggung mitra SPPG tanpa menggunakan dana APBN.
Menurut Dadan, pembangunan SPPG, termasuk pengadaan lahan, perencanaan, pembangunan fisik, pengadaan peralatan, hingga pemeliharaan, sepenuhnya dibiayai oleh mitra. Risiko yang timbul, seperti kerusakan akibat bencana alam atau kejadian lainnya, juga menjadi tanggung jawab mitra.

"Mitra mengeluarkan dana investasi awal karena pembangunan tidak menggunakan dana APBN. Insentif ini diberikan setelah mereka membangun. BGN pada dasarnya mentransfer seluruh risiko kepada mitra," ujar Dadan melalui unggahan video di akun Instagram BGN @badangizinasional.ri, Sabtu (28/2/2026).
Dadan mencontohkan, fasilitas SPPG di Aceh yang baru selesai dibangun terkena banjir, serta fasilitas lain yang mengalami kebakaran. Seluruh risiko ini menjadi tanggung jawab mitra. Selain itu, insentif juga mencakup pengisian peralatan, pemeliharaan bangunan, penurunan nilai peralatan dan bangunan, serta risiko operasional lainnya.
BGN menilai bahwa skema pembangunan oleh mitra lebih efisien karena biaya pembangunan dapat ditekan. Dadan meyakini mitra tidak akan melakukan mark-up terhadap pembangunan fasilitas milik mereka sendiri, sehingga prosesnya lebih hemat.
Selain itu, pembangunan oleh mitra dinilai lebih cepat dibandingkan jika menggunakan dana APBN. Mitra mampu menyelesaikan pembangunan dalam waktu sekitar dua bulan, sementara pembangunan dengan mekanisme APBN bisa memakan waktu minimal lima bulan.
"Kecepatan penyelesaian bangunan menjadi keunggulan yang tidak bisa ditandingi dengan dana APBN. Membangun dengan dana APBN membutuhkan konsultan untuk perencanaan, survei, dan koordinasi dengan Kementerian Keuangan," jelas Dadan.
"Jika terjadi pergeseran lokasi, prosesnya akan semakin panjang. Mitra dapat membangun dalam waktu 2 bulan, sementara BGN membutuhkan minimal 5 bulan karena proses tender saja memakan waktu minimal 45 hari," pungkas Dadan.




