Jakarta, Lahatsatu.com – Rencana pemerintah untuk mengimplementasikan program biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 mendatang diperkirakan akan memicu lonjakan impor metanol secara signifikan. Proyeksi ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, dalam sebuah rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR.
Rahmad memperkirakan, kebutuhan metanol dalam negeri akan terus meningkat hingga mencapai 2,9 juta ton pada tahun 2027. Sementara itu, kapasitas produksi metanol dalam negeri saat ini hanya mampu menghasilkan sekitar 400 ribu ton per tahun. Kondisi ini menyebabkan Indonesia sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan metanol.

"Saat ini, impor metanol kita mencapai 1,4 juta ton. Jika program B50 ini dijalankan, dan dengan mempertimbangkan peningkatan kebutuhan dari sektor lain, kami memperkirakan kebutuhan metanol akan tumbuh menjadi 2,9 juta ton," jelas Rahmad. "Tanpa adanya peningkatan kapasitas produksi metanol dalam negeri, impor metanol berpotensi melonjak dari 1,4 juta ton menjadi 2,5 juta ton."
Menyadari potensi peningkatan impor tersebut, Pupuk Indonesia bersama Danantara tengah berupaya untuk membangun dua pabrik metanol baru. Masing-masing pabrik direncanakan memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton per tahun. Lokasi kedua pabrik ini akan berada di Aceh dan Kalimantan Timur.
"Kami mohon dukungan untuk rencana ini. Bersama Danantara, kami mengusulkan pembangunan dua pabrik metanol dengan kapasitas masing-masing 1 juta ton. Dengan tambahan 2 juta ton dari Pupuk Indonesia, dan 400 ribu ton dari swasta, diharapkan kita dapat memenuhi kebutuhan metanol dalam negeri," pungkas Rahmad. Pembangunan pabrik ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor metanol dan mendukung program B50 secara berkelanjutan.



