Jakarta, Lahatsatu.com – Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah telah memicu dampak domino pada pasar pangan global. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat kenaikan signifikan pada indeks harga pangan dunia di bulan Maret 2026, mencapai 128,5 poin atau naik 2,4% dibandingkan Februari. Kenaikan ini juga 1% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, petani akan menghadapi pilihan sulit, seperti mengurangi penggunaan input, menanam lebih sedikit, atau beralih ke tanaman yang kurang membutuhkan pupuk. Pilihan-pilihan ini akan berdampak pada hasil panen dan pasokan pangan global di masa depan.

Kenaikan harga pangan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk:
- Sereal: Indeks harga sereal FAO naik 1,5%, didorong oleh kenaikan harga gandum global sebesar 4,3%. Kekeringan di Amerika Serikat dan ekspektasi pengurangan penanaman di Australia akibat mahalnya pupuk menjadi penyebab utama. Harga jagung juga ikut terkerek naik akibat kenaikan harga pupuk.
- Minyak Nabati: Indeks harga minyak nabati melonjak 5,1% dari Februari, bahkan 13,2% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Kenaikan harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed dipicu oleh efek limpahan dari kenaikan harga minyak mentah, yang meningkatkan permintaan bahan bakar nabati.
- Daging: Indeks harga daging FAO naik 1,0%, didorong oleh lonjakan harga daging babi di Uni Eropa dan kenaikan harga daging sapi dunia, terutama di Brasil. Brasil mulai membatasi ekspor daging demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
- Susu: Indeks harga susu FAO naik 1,2%, terutama didorong oleh harga susu bubuk yang lebih tinggi akibat penurunan pasokan musiman di Oseania.
- Gula: Indeks harga gula FAO melonjak 7,2% karena Brasil, sebagai eksportir gula utama, akan mengalihkan lebih banyak tebu untuk memproduksi etanol sebagai respons terhadap harga minyak mentah yang tinggi.
Di sisi lain, indeks harga beras FAO justru mengalami penurunan sebesar 3,0% akibat panen raya, permintaan impor yang lebih lemah, dan depresiasi mata uang terhadap dolar AS.
Meskipun demikian, stok sereal global diperkirakan akan meningkat sebesar 9,2% menjadi 951,5 juta ton. Rasio stok sereal dunia terhadap penggunaan pada akhir musim 2025/26 diperkirakan mencapai 32,2%, yang menunjukkan situasi pasokan global yang relatif stabil.



