lahatsatu.com – Dinamika geopolitik global yang kian memanas tengah memberikan tekanan serius terhadap pasar energi dunia. Lonjakan harga minyak mentah yang terjadi belakangan ini mulai memicu kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi domestik, khususnya terkait ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia.
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, memberikan peringatan mengenai dampak nyata dari fluktuasi harga minyak global terhadap postur keuangan negara. Berdasarkan pantauan pasar, dua acuan minyak utama dunia, yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI), saat ini masih bertahan di level yang sangat tinggi. Bahkan, harga minyak Brent dilaporkan sempat menembus angka US$ 105 per barel.

"Kenaikan harga komoditas, seperti Brent yang sudah menyentuh US$ 105 per barel, pasti akan membawa implikasi besar terhadap APBN kita. Hal ini akan berdampak langsung pada sisi pendapatan negara maupun beban belanja pemerintah," ujar Suahasil dalam forum APBN KiTa yang digelar di Jakarta.
Kenaikan harga minyak dunia ini secara otomatis memicu pembengkakan biaya subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah. Data menunjukkan bahwa hingga akhir September 2026, realisasi pembayaran subsidi dan kompensasi energi telah menyentuh angka fantastis, yakni Rp 376,8 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka ini melonjak tajam sebesar 54,1%.
Besarnya beban subsidi ini telah menyerap sekitar 84,3% dari total pagu APBN yang dialokasikan untuk sektor tersebut. Sebagian besar dana tersebut disalurkan untuk menutupi biaya operasional dan kompensasi bagi BUMN strategis seperti Pertamina dan PLN. Selain kenaikan harga, pemerintah juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya volume konsumsi barang-barang bersubsidi.
Data mencatat, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami kenaikan sebesar 9,1% secara tahunan dengan total volume mencapai 13.408,6 ribu kiloliter. Tak hanya BBM, konsumsi Liquefied Petroleum Gas (LPG) juga ikut naik sebesar 2,2% dengan realisasi mencapai 5.761 juta kg.
Di sisi lain, kondisi pasar komoditas global saat ini sedang mengalami volatilitas yang sangat tinggi. Di tengah meroketnya harga minyak, sejumlah komoditas unggulan lainnya justru mengalami tren pelemahan. Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) tercatat di level US$ 1.090,7 per ton, sementara nikel berada di angka US$ 15.634 per ton. Penurunan juga terjadi pada harga batu bara yang kini berada di level US$ 149,3 per ton, serta harga emas yang melandai ke angka US$ 4.182 per troy ounce.
Suahasil menjelaskan bahwa ketidakpastian global menjadi pemicu utama ketidakstabilan harga-harga ini. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam harga komoditas, tetapi juga membayangi prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Bahkan, sejumlah lembaga internasional mulai bersikap pesimis dengan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini, yang diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan tahun 2025. Situasi ini menuntut pemerintah untuk lebih waspada dalam mengelola kebijakan fiskal agar tetap tangguh menghadapi guncangan eksternal.




