Harga Emas Terus Meroket, Sumbang Inflasi Hingga 8,42 Persen

Jakarta – Harga emas dunia terus mencatatkan tren kenaikan, menjadikannya salah satu faktor utama pendorong inflasi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Februari

Agus sujarwo

Harga Emas Terus Meroket, Sumbang Inflasi Hingga 8,42 Persen

Jakarta – Harga emas dunia terus mencatatkan tren kenaikan, menjadikannya salah satu faktor utama pendorong inflasi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Februari 2026, inflasi mencapai 0,68% secara bulanan (mtm) dan 4,76% secara tahunan (yoy), di mana emas perhiasan turut memberikan kontribusi signifikan.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, emas perhiasan mengalami inflasi sebesar 8,42% dan menyumbang 0,19% terhadap angka inflasi Februari 2026. Kenaikan harga emas ini telah berlangsung selama 30 bulan berturut-turut, dimulai sejak September 2023.

Harga Emas Terus Meroket, Sumbang Inflasi Hingga 8,42 Persen
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Komoditas emas perhiasan telah mengalami inflasi secara bulanan selama 30 bulan berturut-turut. Inflasi emas perhiasan pada Februari 2026 sebesar 8,42% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,19%," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dalam kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatatkan inflasi sebesar 2,55% dengan andil 0,19% pada Februari 2026. Ateng menjelaskan bahwa tingkat inflasi kelompok ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu.

Secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 16,66% dengan andil 1,12%. Inflasi ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan yang konsisten sejak Februari 2022.

Di tengah kenaikan harga dan permintaan emas, Indonesia tercatat melakukan impor logam mulia dan perhiasan/permata dalam jumlah besar. Impor terbesar berasal dari Australia, dengan pangsa 47,54% atau tumbuh 634,30% secara tahunan.

"Impor non migas dari Australia tercatat sebesar US$ 1,07 miliar, ini terutama didominasi impor logam mulia dan perhiasan/permata. Ternyata perhiasan atau logam mulia banyak diimpor dari Australia dengan share 47,54% atau tumbuh 634,30% secara tahunan," ungkap Ateng. Fenomena ini menunjukkan ketergantungan Indonesia pada impor emas untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1