Jakarta, Lahatsatu.com – Harga emas diramalkan akan terus mencatatkan kenaikan dalam beberapa waktu mendatang. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter Bank Sentral AS, serta permintaan tinggi sebagai aset "safe haven" menjadi pendorong utama tren positif ini.
Menurut pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, prospek kenaikan harga emas ini berpotensi meningkatkan daya tarik masyarakat untuk berinvestasi pada logam mulia. Antusiasme ini tercermin dari keramaian pengunjung yang rela mengantre saat harga emas mengalami koreksi.

"Antrean panjang saat harga emas turun sudah menjadi pemandangan umum. Ini adalah momentum yang tepat bagi investor untuk melakukan pembelian," ujar Ibrahim, Senin (16/2/2026). Ia menambahkan, masyarakat menyadari bahwa harga emas memiliki potensi kenaikan signifikan dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Ibrahim menjelaskan, tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan AS, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas. "Kedatangan kapal induk kedua AS di Timur Tengah, sebagai persiapan potensi serangan terhadap Iran, kembali memicu ketegangan," jelasnya.
Selain itu, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS juga turut berkontribusi pada kenaikan harga emas. Mengingat harga emas domestik sangat dipengaruhi oleh harga emas global, pelemahan Rupiah mendorong masyarakat untuk mencari emas sebagai aset lindung nilai atau "safe haven".
"Rupiah yang kembali melemah akan mendorong harga emas naik. Wajar jika masyarakat kini kembali mencari aset aman untuk melindungi nilai kekayaan mereka," pungkasnya.




