Jakarta – Harga emas global diperkirakan akan terus mengalami kenaikan signifikan, bahkan berpotensi mencapai US$ 3.400 per troy ons pada pekan mendatang. Proyeksi ini didorong oleh serangkaian faktor, mulai dari dinamika politik dan ekonomi di Amerika Serikat hingga ketegangan geopolitik yang meningkat di berbagai belahan dunia.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, menjelaskan bahwa ketegangan antara pemerintah AS dan bank sentral (The Fed) menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas. Independensi The Fed yang diusik oleh pemerintah memicu kekhawatiran di kalangan investor, sehingga mereka beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas.

"Saat pemerintah ikut campur urusan bank sentral, masyarakat akan mencari aset yang aman, yaitu logam mulia sebagai safe haven," ujar Ibrahim, Minggu (20/7/2025).
Selain itu, kekhawatiran terhadap pertumbuhan utang AS akibat pengesahan Undang-Undang Pembaruan Tarif juga turut memicu pergerakan harga emas. Investor khawatir pemerintah AS akan mencari utang baru dalam jumlah besar, sehingga mereka memilih untuk mengamankan dana mereka dalam bentuk emas.
Kebijakan tarif tambahan yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap anggota BRICS dan Brazil juga menambah sentimen positif bagi harga emas. Langkah ini dinilai dapat memanaskan situasi perdagangan global dan mendorong penguatan dolar AS, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, konflik geopolitik yang berkecamuk di berbagai wilayah juga turut memicu kenaikan harga emas. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Eropa terhadap Rusia tidak menghentikan serangan-serangan Rusia ke Ukraina, sementara ketegangan antara Israel dan Hamas di Timur Tengah terus berlanjut. Kondisi ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian global.
"Di minggu besok, secara teknikal baik daily maupun weekly, harga emas dunia masih akan terus mengalami kenaikan kemungkinan tembus di level US$ 3.400," pungkas Ibrahim.




