Jakarta – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terus meroket di Amerika Serikat (AS) memicu kemarahan warga. Rata-rata harga bensin nasional kini telah menembus US$ 4 atau sekitar Rp 68.072 per galon (3,78 liter), seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah.
Warga AS merasa terbebani dengan kondisi ini, terutama di tengah tingginya biaya hidup akibat inflasi. Mereka menyuarakan protes dan menyalahkan kebijakan luar negeri yang dianggap sebagai penyebab utama kenaikan harga BBM.

Jeanne Williams (83), seorang warga Virginia, mengungkapkan keterkejutannya saat melihat harga di pom bensin. "Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang. Kami tidak meminta perang ini," ujarnya kepada AFP.
Luis Ramos (26), warga New York City, juga merasakan dampak yang signifikan. "Sungguh tidak masuk akal. Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket," keluhnya.
Joseph Crouch (77), seorang mantan tentara, bahkan menyebut situasi ini "konyol". Ia merasa bahwa pemerintah tidak memahami dampak dari kebijakan mereka. "Kita sedang menanggung akibat dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan ini dikarenakan hal lain, tetapi ini jelas karena perang," tegasnya.
Harga rata-rata bensin reguler di AS telah melampaui US$ 4,00 per galon, meningkat 35% sejak sebelum serangan AS-Israel ke Iran yang memicu konflik di Timur Tengah.
Ekonom Bloomberg, Eliza Winger, memperingatkan bahwa kenaikan harga BBM ini tidak hanya berdampak pada konsumen di SPBU, tetapi juga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar secara keseluruhan dan memberikan efek domino bagi perekonomian AS. "Kami memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% mengurangi pengeluaran konsumen riil sekitar 0,2%," jelasnya. Harga bahan bakar di AS telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal perang.



