Ekonomi Indonesia Diramal Sulit Sentuh 5%, Fenomena "Rojali-Rohana" Jadi Sorotan

Jakarta, Lahatsatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 pada hari ini. Namun, sejumlah ekonom memprediksi angka pertumbuhan Produk Domestik

Agus sujarwo

Ekonomi Indonesia Diramal Sulit Sentuh 5%, Fenomena "Rojali-Rohana" Jadi Sorotan

Jakarta, Lahatsatu.com – Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 pada hari ini. Namun, sejumlah ekonom memprediksi angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan kesulitan menembus angka 5%.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab melemahnya pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga yang belum optimal. Ia menyoroti munculnya fenomena "Rojali" (rombongan jarang beli) dan "Rohana" (rombongan hanya nanya) di pusat perbelanjaan sebagai indikasi menurunnya daya beli masyarakat.

Ekonomi Indonesia Diramal Sulit Sentuh 5%, Fenomena "Rojali-Rohana" Jadi Sorotan
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Fenomena Rojali-Rohana ini adalah dampak dari kondisi ekonomi yang kurang baik. Masyarakat mungkin mencari hiburan, tetapi tidak melakukan pembelian barang-barang sekunder atau tersier karena masalah daya beli," jelas Bhima kepada Lahatsatu.com, Senin (4/8/2025).

Konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi signifikan dalam struktur ekonomi Indonesia, mencapai 54,53%. Oleh karena itu, kinerja yang kurang baik pada sektor ini akan berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Bhima memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 hanya akan berada di kisaran 4,5-4,7% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dari realisasi kuartal I-2025 yang mencapai 4,87%.

"Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 diperkirakan berada di kisaran 4,5-4,7% yoy karena tidak ada lagi faktor pendorong musiman setelah Lebaran, dan daya beli masyarakat sedang lesu," imbuhnya.

Senada dengan Bhima, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, juga memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 akan berada di bawah 5%, tepatnya di kisaran 4,7-4,8% yoy. Tekanan dari sisi konsumsi rumah tangga menjadi faktor utama yang mempengaruhi proyeksi tersebut.

"CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2025 akan melambat ke kisaran 4,7-4,8%, turun dari 4,87% pada kuartal I," ungkap Faisal.

Stimulus dari pemerintah dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2025. Selain itu, net ekspor juga belum memberikan kontribusi signifikan karena surplus neraca perdagangan yang semakin menyusut.

"Kontribusi terhadap pertumbuhan menjadi lebih rendah. Kami juga memprediksi belanja pemerintah masih akan mengalami kontraksi di kuartal II, sekitar minus 1%. Hal ini juga menjadi penyebab perlambatan ekonomi," jelas Faisal.

Faisal memprediksi bahwa satu-satunya sektor yang berpotensi mencatat pertumbuhan lebih baik dari kuartal I-2025 adalah investasi. "Namun, pertumbuhannya juga tidak akan terlalu tinggi. Kami memprediksi investasi akan tumbuh di atas 3%," pungkasnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1