Ekonomi Digital Indonesia: Tren Pembayaran 2025

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat, diperkirakan mencapai US$ 200-300 miliar (Rp 3-4 triliun) pada 2030, mendorong transformasi pembayaran bisnis ke bisnis (B2B). Adopsi kecerdasan

Agus sujarwo

Ekonomi Digital Indonesia:  Tren Pembayaran 2025

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat, diperkirakan mencapai US$ 200-300 miliar (Rp 3-4 triliun) pada 2030, mendorong transformasi pembayaran bisnis ke bisnis (B2B). Adopsi kecerdasan buatan (AI) menjadi katalis utama perubahan ini, menurut laporan e-Conomy SEA 2024 oleh Google, Temasek & Bain yang mencatat pertumbuhan 40% transaksi digital Indonesia dari total transaksi ASEAN.

Jeremy Limman, Chief Product Officer dan Co-Founder Paper.id, mengungkapkan bahwa banyak bisnis di Indonesia memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pendapatan. Lima tren pembayaran digital B2B yang diprediksi akan mendominasi tahun 2025 antara lain:

Ekonomi Digital Indonesia:  Tren Pembayaran 2025
Gambar Istimewa : cdn1.katadata.co.id

1. Otomatisasi Manajemen Piutang dan Utang (AR/AP): AI memungkinkan pemrosesan data real-time, mulai dari pengenalan faktur hingga pencocokan data dengan sistem ERP. Teknologi OCR (Optical Character Recognition) berperan penting dalam mengoptimalkan pekerjaan administratif.

2. Integrasi AI dan Machine Learning (ML): Sistem pembayaran berbasis AI mampu mendeteksi dan mencegah penipuan real-time melalui analisis pola transaksi. Teknologi ini juga memudahkan identifikasi kecocokan dokumen, bahkan dengan berbagai template dan penulisan yang berbeda.

3. Kartu Virtual: Inovasi pembayaran ini diprediksi akan semakin populer, meningkatkan efisiensi operasional bisnis.

4. Pembayaran Lintas Batas (Cross-Border Payments): Globalisasi dan kemajuan teknologi mendorong tren ini. Perusahaan membutuhkan solusi pembayaran internasional yang cepat, transparan, dan hemat biaya. Lily M. Sambuaga, Wakil Ketua Umum I AFTECH, menekankan pentingnya kolaborasi antar sektor untuk meningkatkan daya saing dan inklusi keuangan.

5. Keamanan Proaktif: Meningkatnya transaksi digital menuntut prioritas keamanan siber. Perlindungan data dan integritas sistem menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.

Limman juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara industri perbankan, regulator, asosiasi, dan pelaku utama ekosistem untuk memastikan inovasi sesuai regulasi dan tersosialisasi dengan baik. Digitalisasi B2B, hasil kolaborasi berbagai pihak, diyakini akan mempercepat inklusi keuangan secara masif. Laporan Lahatsatu juga menyebutkan potensi kontribusi AI terhadap PDB Indonesia mencapai US$336 miliar (Rp 5,3 triliun), dengan sekitar 24,6% perusahaan Indonesia telah mengadopsi teknologi ini.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1