lahatsatu.com – Pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai gejolak signifikan. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan kekuatannya, melaju kencang dan kini membayangi angka psikologis Rp 18.000. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas mata uang Garuda.
Berdasarkan pantauan data terkini dari Bloomberg pada Jumat 26 Juni 2026, greenback tercatat bertengger di posisi Rp 17.987 per dolar AS. Angka ini menandai lonjakan signifikan sebesar 44 poin, atau setara dengan kenaikan 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Dominasi dolar AS tidak hanya terasa di hadapan rupiah. Mata uang Paman Sam juga perkasa di kancah global, menekan sejumlah mata uang utama dunia. Yen Jepang, dolar Australia, pound sterling Inggris, euro, dolar Singapura, hingga yuan China tak luput dari gempuran penguatan dolar AS.
Merinci pergerakan tersebut, dolar AS terangkat 0,01 persen melawan yen Jepang. Terhadap dolar Australia, penguatan greenback mencapai 0,35 persen. Bahkan, pound sterling Inggris harus mengakui keperkasaan dolar AS dengan pelemahan 0,7 persen. Euro juga tak mampu membendung laju dolar AS, tergerus 0,13 persen.
Sementara itu, dolar Singapura melemah 0,08 persen di hadapan greenback, dan yuan China juga tergerus 0,06 persen. Tren penguatan ini menunjukkan betapa kuatnya posisi dolar AS di tengah dinamika ekonomi global saat ini.




