Jakarta, Lahatsatu.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengambil langkah strategis untuk menekan angka kredit bermasalah (NPL) dengan meluncurkan model pembinaan debitur baru melalui Business Process Improvement (BPI) Monoline Collection. Unit khusus ini akan berada di bawah kendali langsung kantor pusat BTN.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian penting dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan penagihan dan pemulihan kredit. BTN menargetkan penurunan rasio NPL gross menjadi 3,04% pada akhir tahun ini.

"Dengan implementasi BPI Monoline Collection secara menyeluruh, kami berharap dapat mencapai target yang telah ditetapkan," ujar Nixon dalam keterangan tertulisnya.
Sistem baru ini dirancang untuk mengatasi tantangan risiko kredit bermasalah yang semakin kompleks akibat dinamika ekonomi global dan domestik, seperti dampak pasca-pandemi Covid-19, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi lainnya.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menambahkan bahwa transformasi penagihan kredit ini merupakan momentum yang tepat, mengingat kondisi makroekonomi dan kinerja bisnis perseroan yang relatif stabil.
"Tujuan akhirnya adalah mengurangi biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang setiap tahun cukup besar. Jika ini bisa diperbaiki, biaya tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan meningkatkan profitabilitas," jelas Setyo.
BTN juga berencana untuk menerapkan teknologi otomasi, termasuk penggunaan chatbot, dalam proses penagihan kepada debitur. Langkah ini sejalan dengan praktik terbaik di bank-bank internasional.
"Hampir semua bank yang sudah maju, proses penagihannya banyak diotomatisasi dan menggunakan analitik. Kami juga akan mengubah sistem terdistribusi menjadi regionalisasi atau berbasis klaster," pungkasnya.




