lahatsatu.com – Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat melontarkan kecaman keras terhadap praktik perusahaan asing yang dinilai meremehkan kedaulatan hukum Indonesia. Pernyataan bernada tinggi ini diungkapkannya sesaat sebelum posisinya di kabinet mengalami perombakan, memicu sorotan publik. Purbaya merasa martabat bangsa diinjak-injak oleh pihak yang menganggap regulasi di Tanah Air bisa diatur hanya dengan imbalan uang.
Dalam sebuah rapat dengan Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen Jakarta, Purbaya tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan kekesalannya. "Mereka menghina saya. Mereka bilang, tidak ada gunanya mengikuti aturan Indonesia, karena orang Indonesia tidak akan bisa berubah. Cukup dibayar, selesai," ujar Purbaya, menirukan ucapan yang membuatnya geram. Komentar tajam ini menjadi salah satu pernyataan terakhirnya sebagai Menkeu, sebelum beberapa jam kemudian ia digantikan oleh Suahasil Nazara.

Purbaya, yang juga pernah menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), menegaskan tidak akan menoleransi praktik semacam itu. Ia bersumpah akan menindak tegas pihak-pihak yang berani meremehkan hukum di Indonesia. "Kita akan hantam yang seperti itu. Walaupun saya terlihat tertawa-tawa, dalam hati saya berkata ‘kurang ajar!’ Jadi untuk hal semacam itu, saya tidak ada kompromi," tegasnya dengan nada serius.
Kemarahan Purbaya ini muncul di tengah upayanya mereformasi sistem perpajakan demi mengoptimalkan penerimaan negara. Ia mengakui proses perbaikan ini memicu sedikit gejolak, namun ia bertekad untuk terus melanjutkannya. Menurut Purbaya, pembenahan ini krusial untuk meningkatkan pendapatan negara sekaligus menciptakan iklim persaingan usaha yang lebih adil. Dengan demikian, pelaku bisnis domestik dapat berkembang lebih pesat dan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat.




