Beban Utang Kereta Cepat Segera Hilang

lahatsatu.com – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA akhirnya bisa bernapas lega setelah muncul kabar mengenai rencana pengambilalihan saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia

Agus sujarwo

Beban Utang Kereta Cepat Segera Hilang

lahatsatu.com – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA akhirnya bisa bernapas lega setelah muncul kabar mengenai rencana pengambilalihan saham PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) oleh Kementerian Keuangan. Langkah strategis pemerintah ini dipandang sebagai solusi krusial untuk menyelamatkan kesehatan finansial perusahaan konstruksi pelat merah tersebut dari beban proyek kereta cepat yang selama ini menyedot arus kas.

Sebagai informasi, PSBI merupakan entitas yang memegang kendali atas 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sementara 40 persen sisanya dikuasai oleh konsorsium perusahaan asal China. Di dalam struktur PSBI sendiri, WIKA bukanlah pemain tunggal. Perusahaan ini berbagi beban kepemilikan dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebesar 58,53 persen, PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebesar 7,08 persen, dan PT Perkebunan Nusantara I sebesar 1,03 persen.

Beban Utang Kereta Cepat Segera Hilang
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Direktur Keuangan WIKA, Mulyadi, mengungkapkan bahwa keterlibatan perusahaan dalam proyek ambisius Jakarta-Bandung ini selama ini menjadi beban berat bagi laporan keuangan perseroan. Hal ini disebabkan oleh imbal hasil atau return dari proyek tersebut yang masih berada di zona merah atau negatif.

"Terkait rencana pengambilalihan kereta cepat oleh pemerintah, ini memberikan dampak yang sangat positif bagi WIKA. Saat ini, proses konsolidasi keuangan kami berdampak pada ekuitas yang negatif karena proyek kereta cepat tersebut masih menghasilkan imbal hasil yang negatif," jelas Mulyadi dalam sesi Public Expose WIKA yang digelar secara daring.

Lebih lanjut, Mulyadi memaparkan bahwa status WIKA sebagai salah satu pemegang saham di PSBI memaksa perusahaan untuk mencatatkan porsi kerugian proyek tersebut ke dalam laporan laba rugi mereka. Alih-alih menjadi sumber pendapatan, proyek ini justru menjadi penyumbang kerugian yang signifikan. Diperkirakan, beban kerugian yang harus ditanggung perseroan akibat keterlibatan dalam proyek ini mencapai angka Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun setiap tahunnya.

Oleh karena itu, rencana Kementerian Keuangan untuk mengambil alih porsi saham PSBI dianggap sebagai angin segar bagi pemulihan kinerja keuangan WIKA. Mulyadi berharap proses pengambilalihan ini dapat terealisasi pada tahun 2026, sehingga pada akhir tahun tersebut, neraca keuangan WIKA dapat menunjukkan tren perbaikan yang signifikan.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Manajemen Risiko & Legal WIKA, Vera Kirana, menjelaskan bahwa saat ini para pemegang saham PSBI tengah melakukan langkah-langkah administratif yang diperlukan. WIKA bersama KAI, PTPN, dan Jasa Marga sedang merampungkan proses uji tuntas atau due diligence.

"Kami para pemegang saham saat ini terus berkoordinasi dengan Danantara, BP BUMN, maupun Kementerian Keuangan. Proses due diligence sedang berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku," pungkas Vera. Dengan adanya kepastian pengalihan beban ini, WIKA kini dapat lebih fokus pada pemulihan bisnis inti mereka tanpa terus dihantui oleh defisit dari proyek kereta cepat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar