Harga Cabai Rawit Tembus Seratus Ribu Lebih

lahatsatu.com – Kabar kurang sedap datang dari dapur para ibu rumah tangga. Harga sejumlah komoditas cabai di pasar tradisional kini tengah melonjak tajam, bahkan jenis

Agus sujarwo

Harga Cabai Rawit Tembus Seratus Ribu Lebih

lahatsatu.com – Kabar kurang sedap datang dari dapur para ibu rumah tangga. Harga sejumlah komoditas cabai di pasar tradisional kini tengah melonjak tajam, bahkan jenis cabai rawit merah telah menyentuh angka fantastis yakni Rp 102.950 per kilogram. Lonjakan harga ini tentu menjadi beban tambahan bagi masyarakat di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), meskipun terdapat sedikit tren penurunan pada beberapa jenis cabai, namun level harganya masih tetap berada di zona tinggi. Sebagai contoh, cabai rawit merah memang mengalami penurunan tipis sebesar 0,82%, namun harganya masih tertahan di angka Rp 102.950 per kg. Kondisi serupa terjadi pada cabai merah keriting yang berada di level Rp 86.100 per kg, serta cabai rawit hijau yang dibanderol Rp 79.400 per kg. Sebaliknya, cabai merah besar justru menunjukkan tren kenaikan tipis menjadi Rp 75.600 per kg.

Harga Cabai Rawit Tembus Seratus Ribu Lebih
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Menanggapi fenomena ini, Dewan Pertimbangan Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI), Tunov Mondro Atmodjo, mengungkapkan bahwa faktor utama di balik fluktuasi harga ini adalah cuaca ekstrem. Menurutnya, kondisi kekeringan yang melanda saat ini menjadi penghambat utama produktivitas petani.

"Cuaca ekstrem sangat memengaruhi produksi cabai. Kekeringan membuat tanaman cabai berhenti berproduksi," ujar Tunov. Ia menambahkan bahwa dalam kondisi kering seperti sekarang, tanaman hanya mampu menghasilkan panen sekitar 50 persen dari kapasitas normalnya. Meski angka tersebut tergolong cukup baik untuk kondisi cuaca saat ini, namun hal tersebut membuat produksi tidak bisa maksimal sehingga harga sulit untuk turun secara signifikan.

Selain faktor alam, Tunov juga menyoroti masalah klasik dalam distribusi pangan, yakni rantai pasok yang terlalu panjang. Ia menyebutkan bahwa pola distribusi cabai di banyak wilayah masih melibatkan terlalu banyak perantara sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen. Hal inilah yang seringkali membuat harga di tingkat petani jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar, namun melonjak tinggi saat di tingkat retail.

Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan telah melakukan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sekretaris Utama Bapanas, Ito Hediarto, menegaskan bahwa secara nasional pasokan cabai sebenarnya mencukupi. Tantangan utamanya terletak pada kelancaran distribusi, khususnya pengiriman antar pulau yang menggunakan jalur laut.

Untuk memitigasi risiko kenaikan harga akibat kendala logistik, Bapanas telah menyiapkan program Fasilitas Distribusi Pangan (FDP). Program ini bertujuan untuk memobilisasi pasokan dari daerah yang mengalami surplus ke daerah yang kekurangan, sehingga biaya distribusi dapat ditekan dan harga tetap terjangkau. Saat ini, realisasi anggaran FDP telah mencapai 69,5 persen, yang berarti masih ada cadangan anggaran yang siap digunakan jika terjadi lonjakan harga ekstrem di daerah tertentu.

Pemerintah berharap dengan perbaikan cuaca dan kelancaran distribusi, harga komoditas pangan, termasuk cabai dan beras, dapat tetap stabil dan berada dalam level aman hingga akhir tahun.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar