Jakarta, Lahatsatu.com – Industri baja nasional kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. PT Tata Metal Lestari (TML) sukses mengekspor 10.000 ton baja lapis ke Amerika Serikat (AS) dengan nilai mencapai US$ 12,6 juta atau setara dengan Rp 205,38 miliar.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa ekspor ini menjadi bukti nyata kualitas dan daya saing produk baja Indonesia di pasar global. Meskipun AS menerapkan tarif impor baja yang cukup tinggi, yakni 50%, permintaan terhadap baja lapis dari Indonesia tetap tinggi.

"Ini membuktikan bahwa produk baja kita dipercaya dan diterima di pasar global, bahkan di tengah dinamika kebijakan perdagangan yang terus berubah," ujar Agus dalam keterangan tertulisnya.
PT TML sendiri telah secara rutin melakukan ekspor ke AS dan Kanada sejak Oktober 2024. Hingga saat ini, perusahaan telah melakukan empat kali pengiriman dengan target ekspor tahun 2025 mencapai 69.000 ton, melonjak 133% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Agus juga mengapresiasi peran Presiden Prabowo Subianto dalam melakukan negosiasi dengan pemerintah AS, sehingga Indonesia berhasil memperoleh tarif yang lebih menguntungkan dibandingkan negara-negara pesaing. Hal ini menjadi modal penting bagi peningkatan daya saing industri nasional.
"Industri nasional perlu mengoptimalkan ekspor produknya ke pasar Amerika guna memanfaatkan tarif bea masuk yang rendah bagi Indonesia dibanding negara lain," imbuhnya.
Ekspor saat ini menjadi salah satu mesin penggerak utama perekonomian Indonesia. Selain nilai ekspor yang terus meningkat, volume barang yang diekspor juga menunjukkan tren positif, menandakan aktivitas produksi dan logistik yang berjalan dengan baik.
Pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi industri untuk menciptakan produk turunan yang bernilai tambah tinggi, sehingga membuka peluang bagi pelaku industri untuk mengisi pasar ekspor, termasuk AS.
Meskipun demikian, Agus mengingatkan bahwa potensi pasar dalam negeri juga sangat besar. Sekitar 80% output dari industri manufaktur Indonesia ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, sehingga perlu dijaga dari serbuan produk impor.




