Jakarta – Perombakan besar-besaran sistem pajak konsumsi di India membawa angin segar bagi konsumen dengan potensi penurunan harga barang kebutuhan sehari-hari hingga mobil SUV mewah. Namun, kebijakan ini justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan merek fesyen global ternama seperti Zara, Levi Strauss, dan Uniqlo.
Pemicunya adalah penerapan tarif pajak yang lebih tinggi untuk semua produk pakaian dengan harga di atas US$ 29 atau sekitar 2.500 rupee. Menurut riset Datum Intelligence, segmen pakaian premium menyumbang sekitar 18% dari total industri fesyen India yang bernilai US$ 70 miliar. Pertumbuhan segmen ini didorong oleh peningkatan jumlah masyarakat kelas atas dan generasi muda yang semakin sadar merek.

Reformasi pajak yang digagas oleh pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi ini sebenarnya bertujuan baik, yaitu menurunkan tarif pajak menjadi 5% untuk pakaian dengan harga di bawah 2.500 rupee. Namun, konsekuensinya, pakaian dengan harga di atas ambang batas tersebut justru dikenakan pajak yang melonjak hingga 18%.
Kondisi ini menambah tekanan bagi sejumlah pemain global seperti PVH Corp, Marks and Spencer, Gap, Under Armour, Nike, H&M, hingga Uniqlo. Banyak perusahaan fesyen khawatir bahwa kenaikan pajak ini akan berdampak signifikan pada penurunan penjualan. Bagi konsumen muda India yang semakin makmur, membeli pakaian bermerek dianggap sebagai bagian dari gaya hidup, namun mereka tetap sangat sensitif terhadap perubahan harga.
"Bisnis ritel beroperasi dengan margin yang sangat tipis, sementara biaya sewa toko sudah sangat tinggi," ungkap seorang CEO merek pakaian asing di India yang menolak disebutkan namanya karena khawatir akan adanya tekanan dari pemerintah. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa target pertumbuhan yang telah ditetapkan sebelumnya tidak akan tercapai dalam kondisi saat ini. "Ini bukan barang mewah. Harga 2.500 rupee sekarang itu sudah menjadi standar," tambahnya.
Pajak yang lebih tinggi ini juga menjadi pukulan ganda bagi produsen pakaian lokal karena bisnis ekspor mereka ke Amerika Serikat sedang tertekan oleh tarif 50% yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.
Di sisi lain, reformasi ini juga memangkas pajak untuk kebutuhan sehari-hari dan elektronik konsumen. Bahkan, ada kejutan dengan pemangkasan pajak untuk SUV mewah menjadi flat 40%, dari sebelumnya bisa mencapai 50%. Langkah ini menjadi kabar baik bagi produsen mobil mewah seperti Mercedes-Benz yang belakangan mencatat penjualan rekor di India seiring dengan meningkatnya konsumsi kelas menengah atas.
Namun, Asosiasi Produsen Pakaian India justru menilai tarif baru untuk pakaian ini bisa menjadi "lonceng kematian" bagi industri. Pasalnya, pakaian dengan harga di atas 2.500 rupee justru banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah.
Sebagai ilustrasi, dari 875 produk terbaru yang dipasarkan oleh Superdry India, sebagian besar masuk dalam kategori yang terkena tarif baru 18%, dengan harga jaket rata-rata di atas US$ 170 dan kemeja di kisaran US$ 60. Sementara di situs Lacoste India, kaus pria bahkan dijual hingga US$ 99, dan tidak ada satupun yang harganya di bawah US$ 29, ambang batas baru yang mulai berlaku pada 22 September.




