Jakarta – Ratusan demonstran, mayoritas Generasi Z dari berbagai latar belakang profesi, memadati Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (19/12) sore. Mereka menyuarakan penolakan terhadap rencana pemerintah menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% pada Januari 2025.
Massa aksi yang diperkirakan berjumlah 150-200 orang ini terdiri dari karyawan, pekerja lepas, mahasiswa, penggemar anime (wibu), dan K-Popers. Mereka mengaku mendapatkan informasi aksi melalui media sosial dan petisi daring di Change.org yang digagas akun ‘Bareng Warga’ sejak 19 November 2024 (https://chng.it/2Wqbmmj624). Petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 120.000 tanda tangan digital hingga Kamis sore. Petisi ini juga menyertakan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2024 yang menunjukkan angka pengangguran terbuka mencapai 4,91 juta orang.

Risyad Azhari (Icad), perwakilan ‘Bareng Warga’, menilai kenaikan PPN sebagai langkah yang dipaksakan dan tidak relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini, terutama dengan menurunnya jumlah kelas menengah. Ia mendesak pemerintah membatalkan rencana tersebut.
Icad juga mengkritik paket stimulus ekonomi pemerintah sebagai upaya pengalihan isu. Ia mencontohkan bantuan pangan, PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk beberapa komoditas, dan diskon listrik, yang menurutnya tidak cukup mengatasi dampak kenaikan PPN. "PPN 12% untuk barang mewah hanya pengaburan saja," tegasnya.
Sentimen serupa diungkapkan Mirai, anggota komunitas Low Spender gim online Without Survival. Perempuan berusia 29 tahun ini, yang berprofesi sebagai karyawan agensi dengan penghasilan Rp10 juta per bulan, mengaku kenaikan PPN akan memengaruhi pengeluarannya untuk hobi bermain gim online. Sebagai generasi sandwich yang menanggung beban ekonomi dua generasi, ia merasa kenaikan PPN semakin memberatkan. Mirai bahkan rela mengambil cuti untuk mengikuti aksi demonstrasi ini. "Saya mau bahagia saja kena pajak," keluhnya.




