Jakarta – Produsen pesawat terbang global, Airbus, secara mendadak menarik (recall) sekitar 6.000 unit pesawat A320 dari peredaran. Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan setelah ditemukan potensi masalah pada perangkat lunak (software) kontrol penerbangan yang sensitif terhadap radiasi matahari. Dampaknya, 38 unit pesawat A320 yang dioperasikan oleh enam maskapai penerbangan di Indonesia juga terkena imbasnya.
Manajemen Airbus menjelaskan bahwa radiasi matahari yang intens dapat merusak data penting yang diperlukan untuk fungsi kontrol penerbangan. "Analisis terhadap insiden terkini yang melibatkan pesawat A320 mengungkapkan bahwa radiasi matahari yang kuat dapat mengganggu integritas data yang krusial bagi sistem kontrol penerbangan. Oleh karena itu, Airbus telah mengidentifikasi sejumlah besar pesawat Keluarga A320 yang beroperasi saat ini dan berpotensi terdampak," demikian pernyataan resmi Airbus.

Airbus telah mengeluarkan peringatan kepada maskapai-maskapai yang mengoperasikan pesawat A320 untuk segera menerapkan langkah-langkah perlindungan terhadap perangkat kontrol penerbangan. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan keselamatan penerbangan. "Airbus telah bekerja secara proaktif dengan otoritas penerbangan untuk meminta tindakan pencegahan segera dari operator melalui Transmisi Operator Peringatan (AOT) guna menerapkan perlindungan perangkat lunak dan/atau perangkat keras yang tersedia, dan memastikan armada aman untuk terbang. AOT berdasarkan Arahan Kelaikan Udara Darurat dari Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA)," lanjut keterangan tersebut.
Airbus menyadari bahwa penarikan ini akan menyebabkan gangguan operasional bagi penumpang dan pelanggan. Perusahaan menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan berjanji untuk bekerja sama erat dengan para operator, dengan tetap menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama.
Di Indonesia, 38 pesawat Airbus A320 dioperasikan oleh enam maskapai penerbangan, yaitu Batik Air, Super Air Jet, Citilink Indonesia, Indonesia AirAsia, Pelita Air, dan Transnusa.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan telah berkoordinasi dengan keenam maskapai tersebut. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, memperkirakan bahwa kondisi ini akan menyebabkan gangguan penerbangan mengingat banyaknya pesawat A320 yang beroperasi di Indonesia dan di seluruh dunia.
"Kondisi ini diperkirakan akan menyebabkan gangguan penerbangan mengingat banyaknya pesawat A320 yang beroperasi di Indonesia dan juga armada sejenis di seluruh dunia," ujar Lukman F. Laisa dalam keterangan tertulis.
Lukman mengimbau masyarakat yang memiliki tiket penerbangan pada tanggal 30 November hingga 4 Desember 2025 untuk segera melakukan konfirmasi jadwal keberangkatan kepada maskapai masing-masing. "Kami menghimbau kepada masyarakat yang telah memiliki tiket penerbangan pada tanggal 30 November sampai dengan 4 Desember 2025, agar segera melakukan konfirmasi jadwal keberangkatan pada masing-masing Airline," terang Lukman.




