THR: Rezeki Nomplok atau Sekadar Mampir Lewat?

Jakarta – Jelang Idul Fitri, kebutuhan mendadak seringkali membuat pekerja kelimpungan. Tiket mudik yang melambung, persiapan busana baru, hingga bingkisan Lebaran menjadi daftar panjang yang

Agus sujarwo

THR: Rezeki Nomplok atau Sekadar Mampir Lewat?

Jakarta – Jelang Idul Fitri, kebutuhan mendadak seringkali membuat pekerja kelimpungan. Tiket mudik yang melambung, persiapan busana baru, hingga bingkisan Lebaran menjadi daftar panjang yang harus dipenuhi. Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi tumpuan, namun seringkali cair terlalu dekat dengan hari H, sementara kebutuhan sudah mendesak.

Menanggapi hal ini, Tejasari, seorang perencana keuangan dari Tatadana Consulting, menyarankan untuk menyusun skala prioritas. Kebutuhan mendesak seperti tiket mudik harus didahulukan, mengingat lonjakan harga dan ketersediaan yang terbatas menjelang Lebaran.

THR: Rezeki Nomplok atau Sekadar Mampir Lewat?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Tiket mudik sebaiknya dibeli jauh hari agar lebih murah dan terjamin. Ini harus menjadi prioritas utama," ujar Tejasari.

Sementara itu, kebutuhan lain seperti pakaian baru, bingkisan, atau angpau Lebaran bisa disiapkan setelah THR cair. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam memilih dan membeli barang yang diinginkan.

Tejasari menekankan bahwa THR memang diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan tambahan saat Lebaran. Namun, alih-alih menghabiskannya untuk hal-hal konsumtif sesaat, ia menyarankan untuk mengalokasikan sebagian dana ke investasi yang bermanfaat di masa depan.

"THR memang untuk hari raya, tetapi ini adalah penghasilan yang lumayan dan bisa dimanfaatkan secara optimal," katanya.

Salah satu cara bijak memanfaatkan THR adalah dengan melunasi utang atau mengurangi cicilan, baik itu kartu kredit, paylater, pinjaman online, atau jenis utang lainnya.

"Kenapa tidak kita bereskan mumpung ada uangnya? Daripada habis untuk makanan, hadiah, atau pakaian, melunasi utang akan membuat kita bisa menabung lebih banyak setiap bulannya," jelas Tejasari.

Ia menyarankan agar THR digunakan sesuai dengan kondisi finansial masing-masing. Dengan begitu, THR tidak hanya "numpang lewat" tetapi memberikan dampak positif bagi keuangan jangka panjang.

"Boleh memanjakan diri sendiri, tetapi jangan semuanya. Bagi misalnya 30% untuk Lebaran, 50% untuk bayar utang, dan sisanya 10-20% untuk diri sendiri. Fokuskan pada prioritas yang paling mendesak atau kondisi keuangan yang belum stabil. Jika dana darurat belum mencukupi, inilah saat yang tepat untuk menambahnya," pungkas Tejasari.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1