Trump Inisiasi Proyek "Gudang Harta" Energi untuk Saingi Dominasi China

Jakarta, Lahatsatu.com – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah menggagas pembentukan cadangan mineral kritis nasional berskala besar. Langkah ini diyakini sebagai upaya strategis

Agus sujarwo

Trump Inisiasi Proyek "Gudang Harta" Energi untuk Saingi Dominasi China

Jakarta, Lahatsatu.com – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan tengah menggagas pembentukan cadangan mineral kritis nasional berskala besar. Langkah ini diyakini sebagai upaya strategis untuk membebaskan AS dari ketergantungan pasokan logam tanah jarang dan mineral penting lainnya dari China, yang selama ini mendominasi pasar global.

Proyek ambisius yang dinamakan "Project Vault" ini, menurut sumber terpercaya, akan didanai dengan investasi awal sekitar US$ 12 miliar atau setara dengan Rp 201,57 triliun. Dana tersebut rencananya akan berasal dari kombinasi pendanaan swasta sebesar US$ 1,67 miliar (Rp 28,05 triliun) dan pinjaman dari Bank Ekspor-Impor AS sebesar US$ 10 miliar (Rp 167,98 triliun).

Trump Inisiasi Proyek "Gudang Harta" Energi untuk Saingi Dominasi China
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Tujuan utama dari "Project Vault" adalah untuk membeli dan menimbun mineral-mineral penting yang krusial bagi berbagai sektor industri AS, termasuk produsen mobil, perusahaan teknologi, dan sektor strategis lainnya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan perlindungan bagi industri AS dari fluktuasi harga dan gangguan pasokan yang mungkin terjadi akibat kebijakan atau kondisi geopolitik.

Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap kebijakan China yang mulai memperketat kontrol ekspor sejumlah logam tanah jarang dan material. Kebijakan tersebut sempat membuat beberapa produsen AS mengalami kesulitan dan bahkan terpaksa mengurangi produksi akibat keterbatasan stok dan kenaikan harga yang signifikan.

Dengan adanya cadangan nasional ini, produsen AS akan diizinkan untuk menggunakan sebagian dari persediaan nasional dengan syarat mereka harus mengisi kembali stok tersebut di kemudian hari. Hal ini akan membuat mereka lebih tahan terhadap risiko kenaikan harga maupun ketersediaan bahan baku.

"Para produsen akan diizinkan untuk menggunakan sebagian dari persediaan bahan baku mereka selama perusahaan-perusahaan tersebut mengisi kembali persediaan tersebut. Jika terjadi gangguan pasokan besar, mereka akan dapat mengakses seluruh persediaan tersebut," ungkap seorang pejabat yang mengetahui detail proyek tersebut.

Dalam pelaksanaannya, "Project Vault" telah menggandeng sejumlah perusahaan besar AS, termasuk General Motors, Stellantis, Boeing, Corning, GE Vernova, dan Google (Alphabet). Selain itu, perusahaan perdagangan komoditas seperti Hartree Partners, Traxys North America, dan Mercuria Energy Group juga akan terlibat dalam pengelolaan pengadaan bahan baku untuk persediaan tersebut.

"Elemen kunci dalam rancangan usaha ini adalah produsen yang berkomitmen untuk membeli sejumlah bahan tertentu dengan harga tetap juga berkomitmen untuk membeli kembali jumlah yang sama dengan biaya yang sama di masa mendatang. Pemerintah melihat hal itu sebagai mekanisme penstabil, yang membantu menekan volatilitas," jelas sumber tersebut.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1