Transformasi Bukalapak: Dari Unicorn ke Fokus Produk Virtual

Jakarta, 7 Januari 2025 – Bukalapak, perusahaan rintisan yang pernah menyandang status unicorn dan mencatatkan sejarah dengan Initial Public Offering (IPO) terbesar di Indonesia, mengumumkan

Agus sujarwo

Transformasi Bukalapak: Dari Unicorn ke Fokus Produk Virtual

Jakarta, 7 Januari 2025 – Bukalapak, perusahaan rintisan yang pernah menyandang status unicorn dan mencatatkan sejarah dengan Initial Public Offering (IPO) terbesar di Indonesia, mengumumkan perubahan besar dalam strategi bisnisnya. Perusahaan resmi menghentikan operasional penjualan produk fisik di marketplace-nya, efektif 8 Januari 2025. Keputusan ini menandai babak baru bagi Bukalapak, yang kini akan fokus pada pengembangan produk virtual.

"Kami akan menjalani transformasi untuk meningkatkan fokus pada Produk Virtual," demikian pernyataan resmi Bukalapak di laman resminya. Perusahaan mengakui dampak keputusan ini terhadap para pelapak (pedagang) dan menyatakan komitmen untuk memastikan proses transisi berjalan lancar. Para pelapak masih diberi kesempatan untuk mengunggah produk hingga 1 Februari 2025, sementara pembeli masih dapat berbelanja hingga 9 Februari 2025.

Transformasi Bukalapak: Dari Unicorn ke Fokus Produk Virtual
Gambar Istimewa : cdn1.katadata.co.id

Perjalanan Bukalapak, yang didirikan oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid pada awal 2010, cukup dramatis. Setelah meraih status unicorn pada November 2017, Bukalapak mengalami periode pertumbuhan pesat, dengan nilai transaksi (GMV) yang meningkat tiga kali lipat pada 2018, mencapai Rp 4 triliun per bulan. Namun, perjalanan perusahaan juga diwarnai dengan tantangan, termasuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada 2019 dan pergantian kepemimpinan di jajaran direksi.

IPO Bukalapak pada Agustus 2021, yang berhasil meraup dana Rp 21,9 triliun, sempat menjadi sorotan. Meskipun valuasi perusahaan sempat mencapai angka fantastis, harga saham BUKA kemudian mengalami penurunan signifikan hingga 83,84% sejak pencatatan di Bursa Efek Indonesia. Serangkaian PHK dan perubahan kepemimpinan juga terjadi di tahun-tahun berikutnya.

Kini, Bukalapak menutup lembaran bisnis e-commerce konvensionalnya. Layanan marketplace akan dihentikan, namun perusahaan akan tetap melanjutkan layanan produk virtual seperti pulsa, voucher game, dan tiket. Langkah ini menandai berakhirnya satu era bagi Bukalapak, sekaligus membuka babak baru dengan fokus yang lebih spesifik. Bagaimana strategi ini akan berdampak pada kinerja perusahaan dan persaingan di pasar e-commerce Indonesia, akan menjadi hal menarik untuk disimak.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar

ads cianews.co.id banner 1