CEO TikTok, Shou Zi Chew, dilaporkan tengah berupaya keras mengamankan keberadaan aplikasi berbagi video tersebut di Amerika Serikat. Dalam beberapa pekan terakhir, Chew dikabarkan telah menghubungi Elon Musk, CEO X dan Tesla, untuk meminta masukan terkait berbagai isu, termasuk kebijakan teknologi AS dan potensi ancaman dari pemerintahan Donald Trump.
Informasi ini diungkap oleh Wall Street Journal dan dikutip Reuters. Meskipun detail pembicaraan belum terungkap, Chew telah menyampaikan hal ini kepada petinggi ByteDance, induk perusahaan TikTok, yang merespon dengan optimisme yang hati-hati. Baik Musk, TikTok, ByteDance, maupun pihak pemerintahan Trump hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.

Langkah Chew ini bukan tanpa alasan. TikTok masih menghadapi ancaman serius di AS. Kongres AS telah mengesahkan undang-undang yang mewajibkan ByteDance melepaskan kepemilikan TikTok di AS sebelum 19 Januari mendatang. Undang-undang ini didasari kekhawatiran akan potensi akses data pengguna AS oleh pemerintah China atau aktivitas mata-mata. Meskipun Presiden Joe Biden dapat memberikan perpanjangan waktu 90 hari dengan syarat ByteDance menunjukkan kemajuan signifikan, TikTok dan ByteDance tengah melawan regulasi ini melalui jalur hukum.
Sebelumnya, pada tahun 2020, Donald Trump berupaya melarang TikTok, namun gagal. Meskipun Trump yang kini bukan lagi presiden menyatakan tidak akan melarang aplikasi tersebut, ancaman tetap ada. Regulasi yang ada juga mengancam akses TikTok di toko aplikasi seperti Apple dan Google.
Pemerintahan Biden, sementara itu, menyatakan lebih memilih solusi berupa perubahan kepemilikan daripada pelarangan total. Langkah Chew menghubungi Musk, di tengah situasi yang genting ini, menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapi TikTok untuk bertahan di pasar AS yang begitu penting. Perkembangan selanjutnya akan menentukan nasib aplikasi berbagi video populer ini di Amerika Serikat.




























