lahatsatu.com – Tujuh rangkaian Kereta Rel Listrik KRL buatan PT Industri Kereta Api INKA sempat dihentikan operasionalnya oleh PT Kereta Api Indonesia Persero KAI. Langkah ini diambil setelah KAI menemukan adanya komponen krusial yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan kereta api. Penarikan mendadak ini memicu pertanyaan publik mengenai kualitas armada baru.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa setelah penarikan, ketujuh trainset tersebut langsung menjalani pemeriksaan mendalam bersama pihak INKA. Dari hasil investigasi menyeluruh, teridentifikasi satu komponen vital yang memerlukan peningkatan performa. "Beberapa waktu lalu, kami terpaksa menarik tujuh unit trainset buatan INKA. Ini karena kami mendapati adanya indikasi kelelahan material pada salah satu komponen saat pengecekan rutin," ungkap Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat RDP dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta.

Kabar baiknya, KAI dan INKA telah berhasil menemukan solusi teknis untuk mengatasi permasalahan komponen tersebut. Secara bertahap, rangkaian KRL yang telah selesai diperiksa dan diperbaiki mulai dikembalikan ke jalur operasional. "Dua atau tiga hari lalu, satu trainset sudah kami rilis kembali untuk beroperasi. Hari ini, satu trainset lagi juga akan kembali melayani penumpang setelah melalui perawatan," tambah Bobby.
Isu penarikan tujuh trainset ini mencuat saat Bobby memaparkan tantangan pemenuhan kebutuhan armada KRL Jabodetabek. KAI diketahui telah memesan total 16 trainset dari INKA. Namun, hingga kini baru tujuh unit yang diterima dan siap beroperasi. Sembilan trainset sisanya masih belum diserahkan kepada KAI. Bobby menyebutkan bahwa pengiriman armada tersebut mengalami keterlambatan lebih dari satu tahun.
Keterlambatan ini disebabkan oleh kapasitas produksi INKA yang belum optimal. Menurut Bobby, INKA sebelumnya memproyeksikan mampu memproduksi delapan trainset per tahun untuk memenuhi pesanan KAI. Namun, realisasi produksinya hanya berkisar dua hingga tiga trainset setiap tahunnya. "Dari 16 unit pesanan INKA, baru 7 unit yang beroperasi. Sembilan unit sisanya belum kami terima, jadi ada penundaan lebih dari satu tahun," jelasnya.
Kebutuhan akan armada KRL baru semakin mendesak mengingat lonjakan jumlah penumpang KRL Jabodetabek. Bobby mengungkapkan bahwa pada semester pertama tahun 2026, jumlah pengguna KRL tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata penumpang KRL saat ini mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. Di sisi lain, KAI juga harus secara bertahap meremajakan sejumlah trainset lama yang telah berusia lebih dari empat puluh tahun, menambah urgensi pengadaan armada baru.




