Strategi Baru RI Kejar Energi Hijau

lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia kini tengah bergerak cepat dalam memperkuat fondasi energi nasional melalui langkah strategis di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT). Guna memaksimalkan potensi

Agus sujarwo

Strategi Baru RI Kejar Energi Hijau

lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia kini tengah bergerak cepat dalam memperkuat fondasi energi nasional melalui langkah strategis di sektor Energi Baru Terbarukan (EBT). Guna memaksimalkan potensi sumber daya alam yang melimpah, Indonesia secara aktif menjajaki peluang kolaborasi internasional dengan negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat dan Norwegia.

Salah satu fokus utama dalam kerja sama ini adalah pengembangan potensi hidrogen sebagai sumber energi masa depan. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa Indonesia melihat adanya indikasi cadangan hidrogen yang sangat besar di tanah air. Namun, hingga saat ini, pemanfaatan sumber daya tersebut belum dilakukan secara optimal.

Strategi Baru RI Kejar Energi Hijau
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

"Kita memiliki indikasi bahwa cadangan hidrogen yang bisa ditambang cukup besar, tetapi kita belum mengusahakannya. Oleh karena itu, kami akan menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan dari Amerika Serikat yang sudah lebih dulu mengembangkan teknologi hidrogen," jelas Yuliot saat memberikan keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Selain hidrogen, Indonesia juga membidik sektor energi air melalui transfer teknologi dari Norwegia. Negara Skandinavia tersebut dikenal sebagai pemimpin dunia dalam pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), di mana sekitar 90 persen kebutuhan listrik mereka dipenuhi dari aliran air. Indonesia, yang memiliki kekayaan sungai-sungai besar, dinilai memiliki potensi serupa namun masih terkendala dalam hal optimalisasi teknologi.

Yuliot berharap pengalaman dan asistensi teknis dari Norwegia dapat diadopsi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur PLTA di Indonesia. Dengan teknologi yang tepat, aliran sungai di berbagai wilayah Indonesia diharapkan mampu menjadi tulang punggung penyediaan listrik nasional yang ramah lingkungan.

Langkah diplomasi energi ini juga diperkuat dalam ajang G20 Energy Abundance Ministerial Meeting yang berlangsung di Houston, Texas, Amerika Serikat, pada pertengahan September 2026 lalu. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia tidak hanya berdiskusi dengan AS, tetapi juga menjalin komunikasi intensif dengan Jepang dan Prancis. Ketiga negara tersebut dianggap memiliki rekam jejak yang kuat dalam implementasi teknologi energi hijau yang dapat diterapkan di Indonesia.

Tak hanya berhenti di sektor energi terbarukan, pemerintah juga melirik peluang kerja sama teknologi di sektor minyak dan gas bumi (migas). Indonesia tengah menjajaki potensi kolaborasi dengan raksasa energi ExxonMobil, terutama terkait penggunaan teknologi superkomputer dalam pengolahan data migas.

Teknologi canggih milik ExxonMobil diklaim mampu meningkatkan efisiensi produksi minyak bumi secara signifikan. Dengan dukungan superkomputer, proses pengolahan data tidak lagi dilakukan secara manual, sehingga mampu mendukung target produksi yang lebih tinggi. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menawarkan wilayah kerja migas yang siap dikembangkan dengan teknologi mutakhir tersebut guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar