lahatsatu.com – Langkah strategis diambil oleh KAI Commuter dalam upaya mengatasi lonjakan penumpang Commuter Line di wilayah Jabodetabek. Perusahaan pengelola transportasi rel ini berencana mendatangkan tambahan armada berupa Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang. Menariknya, rencana pengadaan armada tambahan ini tidak akan mengandalkan bantuan dana dari pemerintah, melainkan menggunakan kekuatan finansial internal perusahaan.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengungkapkan bahwa skema pendanaan untuk impor 23 rangkaian atau trainset KRL bekas tersebut akan bersumber dari kas mandiri. Dana tersebut dapat berasal dari dukungan induk usaha, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero), maupun dari alokasi anggaran internal KAI Commuter sendiri.

"Saat ini, pembahasan mendalam mengenai rincian biaya dengan pihak operator di Jepang masih terus dilakukan," ujar Karina saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (2/10/2026). Karena proses negosiasi masih berjalan, pihak manajemen belum bisa membeberkan angka pasti mengenai total investasi yang harus dikeluarkan untuk membawa pulang rangkaian kereta dari Negeri Sakura tersebut.
Kepastian mengenai sumber dana ini menjadi poin penting bagi publik. Karina menegaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada rencana untuk menggunakan skema Penyertaan Modal Negara (PMN) maupun suntikan dana dari Danantara untuk proyek pengadaan ini. Fokus utama perusahaan adalah memaksimalkan efisiensi anggaran melalui dukungan PT KAI (Persero) dan kemampuan finansial KAI Commuter.
Rencana pengadaan 23 trainset ini merupakan respons cepat atas meningkatnya mobilitas masyarakat di kawasan penyangga ibu kota. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, terjadi lonjakan jumlah penumpang yang cukup signifikan. Pada semester pertama tahun 2026, angka pengguna KRL Jabodetabek tercatat tumbuh sebesar 11,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, KAI telah merancang spesifikasi armada yang akan didatangkan. Kebutuhan 23 rangkaian tersebut akan dibagi menjadi dua kategori formasi. Pertama, sebanyak 7 trainset dengan formasi 12 kereta (SF12), dan kedua, sebanyak 16 trainset dengan formasi 8 kereta (SF8).
Proses pengiriman armada dari Jepang ini tidak akan dilakukan secara sekaligus, melainkan melalui sistem pengiriman bertahap. Manajemen menargetkan proses pengiriman rangkaian kereta tersebut dapat dimulai pada akhir tahun 2026. Langkah ini diharapkan dapat memberikan napas baru bagi operasional KRL Jabodetabek, sehingga kepadatan penumpang di jam-jam sibuk dapat lebih terurai dengan kehadiran armada tambahan yang lebih mumpuni.




