Jakarta – Fenomena penumpang terpaksa bermalam di stasiun, seperti yang terjadi di Stasiun Cikarang, memicu perdebatan tentang perlunya Kereta Rel Listrik (KRL) beroperasi selama 24 jam. Wacana ini pertama kali dilontarkan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi.
Menhub Dudy menyatakan bahwa opsi operasional KRL 24 jam sedang dijajaki dan dikoordinasikan dengan PT KAI. Namun, ia menekankan bahwa keputusan akhir tidak bisa diambil sepihak. KAI perlu mempertimbangkan biaya operasional dan kemungkinan solusi lain untuk mengatasi masalah penumpang yang terlantar.

"Saya mesti tanya sama KAI, cost-nya kan mereka harus hitung juga. Apakah dengan mengaktifkan kereta 24 jam cost-nya seperti apa atau ada solusi lain," ujar Dudy.
PT KAI melalui Vice President Public Relations, Anne Purba, menyatakan bahwa usulan tersebut akan dikaji dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan penumpang. Anne menjelaskan bahwa saat ini KRL membutuhkan waktu untuk perawatan prasarana, sehingga operasional 24 jam belum memungkinkan.
"Sampai saat ini KRL belum 24 jam karena kami membutuhkan waktu perawatan prasarananya," jelas Anne. Ia menambahkan bahwa waktu efektif untuk perawatan puluhan kereta setiap hari hanya sekitar 2 jam.
VP Corporate Secretary KCI, Karina Amanda, menambahkan bahwa pihaknya telah memaksimalkan operasional armada yang ada, termasuk mengoperasikan kereta 12 rangkaian dan mengurangi kereta 8 rangkaian, untuk mengangkut lebih banyak penumpang.
Tantangan dan Pertimbangan
Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian dan Angkutan Antarkota MTI, Aditya Dwi Laksana, menilai bahwa secara teknis operasional KRL 24 jam memungkinkan, namun perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti biaya operasional, volume penumpang, dan penyesuaian jadwal.
"Sebaiknya perlu melakukan analisis kebutuhan pengguna secara cermat," saran Adit. Ia mengusulkan perpanjangan waktu operasional di Stasiun Cikarang sambil mengkaji kebutuhan mobilitas penumpang di malam hari.
Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menekankan bahwa operasional KRL 24 jam penuh akan sulit diwujudkan karena waktu perawatan di malam hari sangat krusial.
"Ini mutlak diperlukan, karena tanpa jeda perawatan, maka keselamatan dan keandalan perjalanan KRL keesokan hari bisa terganggu," tegas Joni. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan KRL setelah pukul 00.00 WIB cenderung rendah, sehingga kurang efisien secara finansial dan operasional.
Wacana KRL beroperasi 24 jam masih menjadi perdebatan. Meskipun secara teknis memungkinkan, ada berbagai tantangan dan pertimbangan yang perlu diatasi, terutama terkait biaya operasional, perawatan, dan efisiensi. Solusi alternatif, seperti perpanjangan jam operasional di stasiun tertentu, mungkin bisa menjadi langkah awal sambil terus mengkaji kebutuhan mobilitas masyarakat.




