Jakarta – Raksasa energi Shell mengambil langkah hati-hati dalam pengiriman minyak mentahnya di Timur Tengah, menyusul meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran. CEO Shell, Wael Sawan, menyatakan bahwa perusahaan akan memprioritaskan kehati-hatian di tengah ketidakpastian yang meningkat di kawasan tersebut.
"Kami sangat berhati-hati dengan pengiriman kami di kawasan itu, untuk memastikan kami tidak mengambil risiko yang tidak perlu," ujar Sawan dalam sebuah konferensi industri di Tokyo, seperti dikutip Lahatsatu dari Reuters, Kamis (19/6/2025).

Shell akan membatasi pengiriman minyak mentah hanya untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tanpa merinci apakah frekuensi pengiriman akan dikurangi. Tantangan utama dalam pengiriman di kawasan ini adalah gangguan elektronik yang dapat mengganggu sistem navigasi kapal komersial.
Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi lalu lintas sekitar 20% minyak dan bahan bakar dunia, menjadi perhatian utama. Sawan menekankan bahwa penutupan Selat Hormuz, dengan alasan apapun, akan berdampak signifikan pada perdagangan global.
Kenaikan harga minyak dan gas dunia dalam beberapa hari terakhir masih terkendali, karena investor menunggu perkembangan lebih lanjut terkait potensi kerusakan infrastruktur energi akibat konflik. Shell juga terus memantau kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik tersebut.
"Shell memantau dengan cermat kemungkinan aksi militer AS dan telah menyiapkan rencana jika keadaan memburuk," tegasnya. Perusahaan energi ini terus waspada dan siap menyesuaikan strateginya seiring perkembangan situasi di Timur Tengah.




