lahatsatu.com – Industri petrokimia nasional kini tengah berada dalam situasi yang cukup menantang. Gelombang produk impor asal China dilaporkan mulai membanjiri pasar domestik, menciptakan persaingan harga yang sangat sengit bagi para produsen lokal. Sebagai salah satu pasar konsumen terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi target utama bagi produk-produk petrokimia dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan bahwa fenomena banjirnya produk impor ini dipicu oleh kondisi kelebihan kapasitas produksi atau overcapacity di dalam negeri China sendiri. Masalah utama muncul ketika kapasitas produksi yang melimpah tersebut tidak dibarengi dengan pertumbuhan permintaan domestik yang kuat di China.

Kondisi ekonomi China yang melambat pasca-pandemi COVID-19 turut memperparah situasi. Saat ini, pertumbuhan ekonomi China hanya berada di kisaran 5-6 persen, angka yang terpaut jauh dibandingkan masa sebelum pandemi yang secara konsisten mampu menyentuh angka 7-8 persen. Akibatnya, untuk menjaga perputaran industri, China terpaksa mengalihkan kelebihan pasokan mereka ke pasar internasional, terutama ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Tekanan paling berat dirasakan oleh produsen lokal pada komoditas Polipropilena (PP) dan Polietilena (PE). Produk asal China ini memiliki daya saing harga yang sangat tinggi di pasar Indonesia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor kunci, di antaranya adalah dukungan subsidi dari pemerintah China serta akses terhadap bahan baku yang jauh lebih murah.
Selain faktor subsidi, kemajuan teknologi juga menjadi senjata utama mereka. Produsen di China telah mengembangkan teknologi pengolahan yang tidak lagi bergantung pada nafta, melainkan menggunakan teknologi ethane. Dengan metode cracking menjadi etilen untuk produksi PE, mereka mampu menekan biaya produksi secara signifikan.
Menghadapi gempuran ini, Chandra Asri Group tidak tinggal diam. Perusahaan telah menyiapkan tiga langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri nasional. Langkah pertama adalah memperkuat keandalan operasional guna memastikan keberlanjutan produksi dan menghindari penghentian operasional yang tidak terencana (unplanned shutdown). Hal ini penting untuk menjamin pasokan bahan baku bagi industri hilir dalam negeri agar tidak terus-menerus bergantung pada impor.
Kedua, perusahaan melakukan diversifikasi dan transformasi bisnis. Untuk mengurangi risiko dari fluktuasi pasar petrokimia, mereka mulai merambah sektor baru seperti energi, infrastruktur terintegrasi, hingga solusi mobilitas. Langkah ketiga adalah mempercepat pembangunan proyek strategis, salah satunya pabrik Chlor-Alkali / Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon yang ditujukan untuk menyokong industri ekstraksi nikel dan alumina nasional.
Suryandi menekankan pentingnya dukungan pemerintah agar industri petrokimia hulu nasional tetap tangguh. Mengingat Indonesia masih mengalami defisit atau net importer sekitar 40 hingga 50 persen untuk produk-produk tertentu, kemandirian industri menjadi harga mati agar produsen lokal tidak kalah bersaing dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Vietnam.




