Prioritas Energi Nasional Jadi Fokus Utama

lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan langkah drastis terkait kebijakan ekspor energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara terbuka membuka

Agus sujarwo

Prioritas Energi Nasional Jadi Fokus Utama

lahatsatu.com – Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan langkah drastis terkait kebijakan ekspor energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara terbuka membuka opsi untuk menghentikan ekspor gas alam ke negara-negara tetangga. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya "mode bertahan" atau survival mode demi menjaga kedaulatan sumber daya alam di dalam negeri.

Keputusan ini muncul menyusul hasil Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026). Dalam sidang tersebut, Presiden Prabowo memberikan penekanan khusus mengenai perlunya pemerintah melakukan proteksi terhadap kekayaan alam nasional. Menurut Presiden, sumber daya alam adalah aset vital yang harus dikelola dengan sangat hati-hati agar tidak habis hanya untuk memenuhi permintaan pasar global tanpa memberikan dampak maksimal bagi rakyat sendiri.

Prioritas Energi Nasional Jadi Fokus Utama
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa seluruh kementerian dan lembaga harus mampu menerjemahkan arahan presiden tersebut ke dalam program kerja yang nyata. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa kebutuhan energi domestik, terutama gas, tidak terganggu oleh komitmen ekspor ke luar negeri.

"Kita harus masuk ke mode survival. Sebagai pejabat negara, kita harus mampu menjabarkan arahan Presiden ke dalam implementasi program untuk mencapai tujuan bertahan tersebut," ujar Bahlil saat memberikan keterangan kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan.

Lebih lanjut, Bahlil memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak luar yang selama ini bergantung pada pasokan energi dari Indonesia. Ia menyatakan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan energi untuk kebutuhan dalam negeri tetap terjaga dan stabil. Jika kebutuhan domestik belum terpenuhi secara maksimal, maka opsi untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor gas ke negara tetangga akan menjadi pilihan yang sangat masuk akal.

"Jika negara lain memiliki pandangan berbeda, mereka harus berhati-hati. Saya sedang memikirkan untuk tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga. Kita harus mengutamakan kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu demi kelangsungan hidup bangsa," tegas Menteri Koordinator Hilirisasi dan Energi tersebut.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Sidang Kabinet Paripurna mengibaratkan sumber daya alam sebagai "darah" bagi sebuah tubuh. Ia menekankan bahwa jika sumber daya alam terus-menerus "bocor" atau keluar tanpa kendali, maka stabilitas nasional akan terancam.

"Kita berada dalam kondisi harus bertahan. Kita harus menyelamatkan kekayaan alam kita. Itu ibarat darah kita. Jika darah kita terus bocor, tidak mungkin tubuh kita bisa selamat," tutur Presiden Prabowo dengan nada tegas.

Kebijakan ini menandai pergeseran fokus pemerintah dalam mengelola komoditas energi, di mana kepentingan nasional kini ditempatkan di atas kepentingan pasar internasional. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Klik Laporkan. Terima Kasih
Laporkan

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar