lahatsatu.com – Sebuah kisah penipuan berkedok asmara atau love scam kembali mengguncang publik, kali ini menimpa seorang ibu di Medan dengan kerugian fantastis mencapai Rp 120 miliar. Pelaku, yang awalnya mengaku sebagai pria tampan asal Singapura, ternyata hanya menggunakan identitas palsu yang dipoles teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mengelabui korbannya. Ironisnya, sang penipu juga berasal dari kota yang sama dengan korban.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) terus-menerus mengingatkan masyarakat agar ekstra waspada terhadap berbagai modus penipuan di sektor jasa keuangan. Modus love scam menjadi salah satu taktik yang paling banyak memakan korban belakangan ini. Ketua Satgas PASTI, Rizal Ramadhani, mengungkapkan bahwa mayoritas sasaran penipuan ini adalah kaum pria yang tergiur dengan sosok perempuan cantik, yang seringkali hanya rekayasa AI.

"Modusnya biasanya perempuan, mengaku perempuan. Karena semua pakai AI, suara bisa mirip, muka bisa mirip. Jadi waktu dicek muka bisa pakai AI karena mereka tampaknya perempuan," terang Rizal dalam sebuah seminar di Jakarta Pusat. Dengan persona palsu yang begitu meyakinkan, pelaku membangun kedekatan emosional. Setelah korban merasa nyaman dan percaya, pelaku mulai melancarkan aksinya dengan meminta sejumlah dana atau mendorong korban untuk membeli produk tertentu.
Melengkapi penjelasan Rizal, Direktur Satgas PASTI Brigjen Pol. Djoko Prihadi menyoroti kasus di Medan sebagai salah satu insiden dengan nilai kerugian terbesar. Korban, seorang perempuan yang berprofesi di sektor angkutan publik, kehilangan asetnya hingga Rp 120 miliar. "Nah itu ada korban yang paling besar itu di Medan, Rp 120 miliar, ibu-ibu, dia angkutan publik," ujar Djoko.
Djoko menjelaskan, penipuan ini dilakukan oleh seorang pemuda yang juga berasal dari Medan. Namun, dengan bantuan AI, pelaku berhasil menciptakan citra diri yang sangat menarik dan meyakinkan, seolah-olah ia adalah pria mapan dari Singapura. "Jadi mereka memang pendekatannya luar biasa. Ganteng banget di akunnya, dia ngakunya orang Singapura, padahal sama-sama orang Medan. Korban orang Medan, pelaku orang Medan," imbuhnya.
Dalam kurun waktu empat bulan, pelaku berhasil menguras seluruh dana korban. Setelah itu, ia menghilang tanpa jejak dan tidak dapat dihubungi. Korban baru menyadari dirinya tertipu dan melapor tiga bulan kemudian, membuat jejak aliran dana menjadi sangat sulit dilacak. "Salah satu yang paling besar itu. Satu orang loh, Rp 120 miliar, empat bulan sudah amblas. Dia lapor sudah sekitar tiga bulan kemudian. Jadi kita juga tracing money-nya, money trail-nya itu sudah sulit. Ya sudah habis semua, sudah hilang," pungkas Djoko, menegaskan betapa cepat dan merugikannya skema penipuan semacam ini.




